Peninggalan purbakala masa Majapahit

Peninggalan purbakala masa Majapahit

Gapura Wringin Lawang

Mojokerto tepatnya di Kecamatan Trowulan. Tujuan melihat peninggalan-peninggalan purbakala masa Majapahit yang ada di Trowulan. Trowulan berjarak sekitar 65 Km dari Surabaya dan dapat ditempuh dalam waktu 1-1,5 jam dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Saat melintas di Jl. Raya Trowulan sepintas terlihat bangunan menyerupai candi, langsung aja belok dan masuk ke komplek bangunan tersebut. Ternyata bangunan tersebut adalah Gapura Wringin Lawang.

Gapura Wringin Lawang ini terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Dalam tulisan Raffles: History of Java I, gapura ini disebut dengan nama Gapura Jati Pasar. Sedangkan berdasarkan cerita Knebel dalam tulisannya tahun 1907 menyebutnya sebagai Gapura Wringin Lawang. Dan nama Gapura Wringin Lawang ini yang masih dikenal sampai sekarang.

Gapura Wringin Lawang terbuat dari bata, sedangkan anak tangganya terbuat dari batu. Bentuk gapuranya berupa candi bentar yaitu candi yang terbelah dua dengan denah berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 13 m, lebar 11,5 m, dan tinggi bangunannya 15,5 m.

Berdasarkan penelitian, di halaman barat daya gapura ditemukan 14 buah sumur. Bentuknya ada dua macam yaitu silindris dan kubus. Pada sumur yang berbentuk silindris, dinding sumurnya menggunakan bata yang berbentuk silindris. Sedangkan pada sumur yang berbentuk kubus, dinding sumurnya menggunakan bata yang berbentuk kubus pula.

Menurut bapak yang menjaga gapura ini, fungsi dari gapura ini masih belum diketahui. Dalam artian ini adalah gapura yang merupakan pintu gerbang, tapi pintu gerbang menuju mana masih belum tahu. Entah itu menuju kota keraton, menuju candi, atau menuju kompleks bangunan, masih belum jelas.

Candi Brahu yang terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.

Candi Brahu ini juga sama dengan bangunanGapura Wringin Lawang yang terbuat dari bata yang direkatkan satu dengan yang lainnya. Denah bangunannya bujur sangkar dan menghadap ke barat dengan tinggi 25,7 m dan lebar 20,7 m.

Berdasar gaya bangunan serta profil sisa hiasan denah lingkaran pada atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa, para ahli menduga bahwa Candi Brahu bersifat Budhis. Selain itu diperkirakan Candi Brahu ini umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang ada di Situs Trowulan. Dasar dugaan ini adalah Prasasti Alasantan yang ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Mpu Sindok pada tahun 939 M, diantara isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu waharu atau warahu. Nama inilah yang diduga sebagai asal nama Candi Brahu sekarang.

Candi Bajang Ratu yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Candi Brahu. Perjalanan  sekitar 10 menit saja.

Candi Bajang Ratu atau biasa disebut dengan Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Bentuknya menyerupai bangunan Gapura Wringin Lawang yang sudah saya kunjungi sebelumnya. Hanya saja jika pada Gapura Wringin Lawang bentuk gapuranya adalah candi yang terbelah dua, sedangkan pada Gapura Bajang Ratu ini adalah gapura yang memiliki atap. Fungsinya hampir sama yaitu sebagai pintu gerbang.

Gapura Bajang Ratu dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap. Selain itu gapura juga mempunyai sayap dan pagar tembok dikedua sisinya. Pada kaki gapura terdapat hiasan relief yang menggambarkan cerita “Sri Tanjung”, dibagian atas tubuh terdapat ambang pintu yang di atasnya terdapat hiasan kala dengan hiasan sulur-suluran. Sedangkan pada bagian atap bentuknya bertingkat-tingkat dengan puncaknya berbentuk persegi.

DSCN5776Nama Bajang Ratu pertama kali disebut dalam Oudheikunding Verslag (OV) tahun 1915. Para ahli yang telah menemukan penelitian bangunan ini, Gapura Bajang Ratu dihubungkan dengan wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328.

Masa pendirian gapura ini sendiri tidak diketahui dengan pasti, namun berdasarkan relief Ramayana, relief binatang bertelinga panjang dan relief naga diperkirakan Gapura Bajang Ratu berasal dari abad XIII-XIV. Sejak pertama kali didirikan, Gapura Bajang Ratu belum pernah dipugar. Baru dipugar pada tahun 1989 dan selesai pada tahun 1992

Tidak jauh dari Candi Bajang Ratu atau Gapura Bajang Ratu, berjarak sekitar 400-500 m terdapat Candi Tikus. Terletak di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Bangunan ini merupakan pertirtaan, tapi masyarakat menyebutnya sebagai Candi Tikus.

Candi Tikus terbuat dari bata merah dengan ukuran 22,5 x 22,5 m. Candi ini berdiri pada permukaan tanah yang lebih rendah dari daerah sekitarnya, yaitu kurang lebih sedalam 3,5 m. Oleh karena itu, untuk mencapai lantai dasar candi harus menuruni tangga masuk yang berada di sebelah utara yang merupakan pintu masuk candi.

Dinamakan Candi Tikus karena pada saat penggalian tahun 1914 banyak ditemukan sarang tikus. Candi ini kemungkinan didirikan pada abad XIII-XIV Masehi. Untuk fungsinya sendiri masih belum diketahui, tetapi dari bentuk dan susunan candinya memberi kesan mirip Gunung Mahameru di India.

Di sepanjang pondasi candi terdapat hiasan kepala makara dan kuncup bunga padma yang terbuat dari batu kali. Ini diduga sebagai pertirtaan suci, artinya air yang berasal dari tempat tersebut dianggap suci.

Situs kedaton terletak di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Berjarak sekitar 1,5 Km dari Balai Penyelamatan Arca ke arah selatan, lalu untuk sampai ke kompleks Situs Kedaton harus melewati jalan desa sejauh 150 m ke arah barat.

Di dalam Situs Kedaton terdapat sebuah candi yang disebut dengan nama Candi Kedaton. Bangunannya berbentuk persegi panjang tanpa atap, lebih menyerupai pendopo yang tidak ada atapnya. Menurut info yang saya dapatkan dari penjaga Situs Kedaton, saat ditemukan bangunannya memang sudah seperti ini karena bangunan atasnya sudah hancur. Tidak diketahui persis apa fungsi dari bangunan ini, tapi kemunginan ini adalah sebagai tempat pertemuan. Di depan bangunan Candi Kedaton ini terdapat sebuah sumur tua berkedalaman 5,7 m yang masih berfungsi sampai sekarang, baik untuk kebutuhan air maupun untuk kepentingan ritual oleh masyarakat tertentu yang percaya bahwa sebelum bersemedi di Sumur Upas harus mensucikan dirinya dengan menggunakan air yang berasal dari sumur kuno tersebut.


Candi Kedaton

Di bangunan lain terdapat sebuah kompleks yang sudah saya singgung sebelumnya yaitu kompleks Sumur Upas. Kompleks ini merupakan gugusan suatu bangunan yang luasnya belum dapat diketahui secara pasti. Penamaan Sumur Upas sebenarnya diambil dari bangunan yang menyerupai lubang atau sumur yang terdapat di tengah gugusan kompleks. Oleh masyarakat lubang tersebut dinamakan Sumur Upas yang mempunyai arti gas/racun. Menurut bapak penjaga Situs Kedaton, Sumur Upas ini dahulu merupakan jalan rahasia menuju ke suatu tempat yang aman apabila diserang oleh musuh. Untuk menghalangi agar tidak semua orang berani memasukinya, maka jalan rahasia ataupun lorong ini diberi nama sumur upas (sumur beracun).


Sumur Upas-Sering digunakan untuk ritual pada hari-hari tertentu

Cukup banyak temuan yang ada di Situs Kedaton ini, temuan-temua tersebut berupa gerabah dan keramik asing dari Cina dalam jumlah yang cukup banyak, disertai dengan beberapa fragmen arca, mendukung dugaan bahwa situs ini dahulunya adalah sebuah pemukiman. Dari hasil ekskavasi yang pernah dilakukan, ditemukan 4 buah kerangka manusia pada bangunan Candi Kedaton dan sebuah kerangka lagi di dekat Sumur Upas. Dari hasil penelitian kerangka manusia tersebut menunjukkan bahwa keempat kerangka yang ditemukan di dalam bangunan Candi Kedaton berjenis kelamin wanita, sedangkan yang ditemukan di dekat Sumur Upas berjenis kelamin pria. Dengan ditemukannya kerangka ini, ada kemungkinan bahwa pada saat itu agama islam sudah mulai masuk ke Kerajaan Majapahit karena jenazah yang meninggal sudah dikuburkan sesuai dengan ajaran islam, tidak lagi dibakar seperti adat agama Hindu. Saya beruntung karena bapak penjaga situs ini bersedia menunjukkan salah satu kerangka yang masih utuh dan termasuk yang terbesar yaitu kerangka yang ditemukan di dekat Sumur Upas.


Kerangka pria yang ditemukan di dekat Sumur Upas

Disini juga ditemukan sebuah permainan dakon yang terbuat dari batu. Konon katanya dakon yang terbuat dari batu ini merupakan mainan anak-anak raja yang memerintah pada jaman dahulu.


Dakon-Permainan anak-anak raja jaman dulu

Temuan-temua lain yang berada di Situs Kedaton:
Photobucket Photobucket Photobucket

Sayangnya penggalian situs ini yang dilakukan mulai tahun 1996 masih terbengkalai hingga sekarang dan belum ada kelanjutannya. Saya hanya bisa berharap mudah-mudahan penggalian dan penelitian situs purbakala ini bisa diteruskan sehingga dapat diketahui secara pasti tentang tempat ini yang masih menjadi misteri hingga sekarang

Kolam Segaran merupakan salah satu dari 32 waduk/kolam kuno Majapahit yang masih dapat disaksikan sekarang ini. Letak kolam ini berada di depan Museum Trowulan yang masih masuk ke dalam wilayah Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kolam ini memliki panjang 375 m dan lebar 125 m. Bahan bangunan kolam terbuat dari bata yang dilekatkan satu sama lain dengan cara digosokkan tanpa menggunakan perekat.

Menurut cerita rakyat pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Kolam Segaran digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri. Apabila perjamuan telah usai, maka peralatan perjamuan seperti piring, sendok, ataupun mangkok yang terbuat dari emas dibuang di kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit. Namun di dasar kolam telah lebih dahulu dipasang jaring, sehingga saat tamu sudah pergi, peralatan-peralatan tersebut diambil kembali untuk digunakan. Ternyata di jaman Majapahit sombongnya luar biasa ya?
Namun berdasarkan adanya saluran keluar masuk serta luasnya kolam, diduga kolam ini dahulu difungsikan sebagai waduk atau penampung air.

Sementara menurut para peneliti lain menyebutkan bahwa Segaran dikaitkan juga fungsinya sebagai penambah kesejukan udara Kota Majapahit. Bangunan ini mencerminkan kemampuan Majapahit untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Para ahli memperkirakan Kolam Segaran adalah “telaga” yang disebutkan dalam Kitab Negarakertagama

http://greatstyo.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s