<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wisata Candi</title>
	<atom:link href="http://wisatacandi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wisatacandi.wordpress.com</link>
	<description>menelusuri candi di bumi Nusantara</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Dec 2011 05:45:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wisatacandi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Wisata Candi</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wisatacandi.wordpress.com/osd.xml" title="Wisata Candi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wisatacandi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Candi Siem Reap</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/11/25/candi-siem-reap/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/11/25/candi-siem-reap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 12:45:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sasakala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Angkor Wat]]></category>
		<category><![CDATA[Banteay Srei]]></category>
		<category><![CDATA[Bayon]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Magis Siem Reap]]></category>
		<category><![CDATA[Kamboja]]></category>
		<category><![CDATA[Ta Prohm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Kompleks candi yang mengelilingi kota kecil Siem Reap kini tak lagi tersembunyi. Sekarang, semua orang punya kenalan yang sudah pernah menaiki menara-menara Angkor Wat. Secara de facto, Angkor Wat menjadi kuil utama Kamboja. Menara-menaranya terlihat di tengah bendera Kamboja dan &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/11/25/candi-siem-reap/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=217&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">Kompleks candi yang mengelilingi kota kecil Siem Reap kini tak lagi tersembunyi. Sekarang, semua orang punya kenalan yang sudah pernah menaiki menara-menara Angkor Wat. Secara de facto, Angkor Wat menjadi kuil utama Kamboja. Menara-menaranya terlihat di tengah bendera Kamboja dan pada label bir nasional, Angkor Beer.</div>
<p style="text-align:justify;">Tapi ada ratusan candi di Siem Reap, baik yang sudah rusak atau yang masih terawat. Kecuali Anda berkunjung selama beberapa minggu, tidak mungkin Anda dapat melihat semua candi-candi itu. Berikut adalah tiga candi terfavorit yang saya sarankan untuk Anda kunjungi. Saya tidak memasukkan Angkor Wat untuk dua alasan: 1) Itu bukan favorit saya dan 2) Itu sebuah kompleks candi besar dengan sejarah yang kompleks dan signifikan, sehingga Anda tidak mungkin melewatkannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-385743028-1282551480.jpg?ym5K8pDDfyB8mebK" border="0" alt="" /></p>
<p style="text-align:justify;"><cite>Photo credits &#8211; dalbera</cite></p>
<h2 style="text-align:justify;">Bayon</h2>
<p style="text-align:justify;">Bayon dikenal sebagai Candi Muka (Temple of Faces). Ketika Anda mengunjunginya, akan sangat mudah mengetahui alasan di balik nama itu &#8212; saat mendaki tangga batu curam menuju bagian suci candi, ratusan wajah akan melihat ke arah Anda. Meskipun mereka terlihat tersenyum, saya merasa ada sedikit hawa berbahaya, seolah sedang menunggu para pembuat patung-patung batu itu untuk berjalan kembali dari hutan. Walaupun banyak candi yang hancur, masih mudah untuk membayangkan pemandangan luar biasa saat kompleks itu pertama dibangun &#8212; benar-benar rumah bumi yang pantas bagi para dewa.</p>
<p style="text-align:justify;"><img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-263907409-1282551481.jpg?ym5K8pDDxrpJYJPQ" border="0" alt="" /></p>
<p style="text-align:justify;"><cite>Photo credits &#8211; Chi King</cite></p>
<h2 style="text-align:justify;">Ta Prohm</h2>
<p style="text-align:justify;">Jika anda pernah menonton Tomb Raider, beberapa adegan film itu mengambil tempat di kuil Ta Prohm, tidak perlu efek khusus untuk memberikan kesan seram dan sureal. Kompleks candi itu berada dalam kondisi yang nyaris ambruk. Selama berabad-abad pohon berakar pada dinding candi. Para pelestari candi membiarkan pohon-pohon itu karena, saking dalamnya berakar, pohon memperkuat konstruksi kuil. Jika dihilangkan, maka kuil yang masih tersisa akan ambrol.</p>
<p style="text-align:justify;">Ta Prohm memiliki efek magis mirip dengan Bayon, rasanya seperti siapapun yang membangun kuil atau tinggal di sana sedang keluar sebentar untuk berjalan-jalan, dan untuk mengeskplorasi ruang-ruang kuil yang tersembunyi adalah pelanggaran. Temukan sebuah sudut yang tenang, bersantailah dan rasakan mistisnya Ta Prohm.</p>
<p style="text-align:justify;"><img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-411927021-1282551480.jpg?ym4K8pDDrmcyRsK." border="0" alt="" /></p>
<h2 style="text-align:justify;">Banteay Srei</h2>
<p style="text-align:justify;">Selama sepuluh menit pertama di Banteay Srei, Anda akan terus menatap takjub ukiran rumit pada setiap inci batu, bertanya-tanya apakah sebenarnya itu terbuat dari kayu. Bahkan dengan teknologi saat ini, hampir tak dapat dipercaya bahwa pola-pola rumit dan detil pada patung bisa dibuat di batu. Candi ini, tidak seperti yang lain, terbuat dari sandstone merah sehingga lebih mudah dipahat dan memberikan rona emas kemerahan pada kompleks.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian besar pintu masuk dan menara candi masih dalam kondisi terawat dan utuh (hati-hati kepala Anda karena pintu cukup pendek!), tetapi beberapa patung di sisi tangga sebenarnya adalah replika. Patung aslinya dicuri atau sudah disimpan di museum. Jika ada sebuah kontes seni, Banteay Srei akan menang mudah karena orisinalitas dan perhatiannya pada detail.</p>
<p style="text-align:justify;">Siem Reap, kota bekas markas tentara dari negara yang dikuasai penguasa haus darah Khmer Merah, kini berkembang secara mengagumkan menjadi tujuan wisata internasional. Bahkan Siem Reap mendapatkan status sebagai Situs Warisan Dunia dari UNESCO dan salah satu dari Tujuh Keajaiban Baru Dunia. Padahal baru 20 tahun lalu daerah ini terlarang bagi wisatawan, penduduk lokalnya diteror dan dikuasai oleh ketakutan akan salah satu rezim paling kejam di dunia.</p>
<p>Saat ini, dengan reruntuhan kuno di wilayah Angkor Wat, Siem Reap menjadi kota yang hidup dan pada 2007 menerima kurang lebih satu juta pengunjung melalui bandara internasionalnya. Walau Angkor Wat merupakan pusat atraksi, namun bukan berarti kota Siem Reap tidak mendapat perhatian, dengan memiliki fasilitas restoran, museum dan galeri terbaik di wilayah tersebut.</p>
<p><img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-553944084-1283744733.jpg?ymdffuDDdn2CXBEV" border="0" alt="" /><cite>Photo credits &#8211; tylerdurden1</cite></p>
<h2 style="text-align:justify;">Angkor Wat</h2>
<p style="text-align:justify;">Angkor Wat adalah candi terbesar, paling terpelihara baik, memiliki desain paling rumit dan paling mengagumkan di Indochina, sebuah permata di mahkota kerajaan Angkor yang luas. Candi itu merupakan sumber kebanggaan nasional dan diakui secara internasional, diselubungi relief Hindu mengenai epik Ramayana. Seperti kebanyakan candi Hindu di Asia, Angkor Wat terlihat lebih indah pada saat fajar atau menjelang matahari tenggelam, ketika langit dipenuhi warna yang menonjolkan kelima menaranya.</p>
<p><img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-669940518-1283744734.jpg?ymeffuDDfV6V2sjP" border="0" alt="" /><cite>Photo credits &#8211; taiger808</cite></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengenal Asia pertama-tama Anda harus memahami kepercayaan di benua tersebut, dan ini terlihat jelas di lingkungan Angkor Thom, sebuah candi yang terpaku dengan angka sembilan. Pengucapan &#8220;sembilan&#8221; serupa dengan kata &#8220;pembangunan&#8221;, dan hampir semua yang ada di candi dapat disamakan ke angka ini &#8211; 54 menara yang diukir, 216 wajah di menara, 54 dewa di sebelah kiri pintu masuk, dan 54 setan di sebelah kanannya &#8211; semua angka-angka tersebut dapat ditambahkan hingga menjadi angka 9.</p>
<p><img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-827961611-1283744734.jpg?ymeffuDDSs0hmCek" border="0" alt="" /><cite>Photo credits &#8211; cornstaruk</cite></p>
<h2 style="text-align:justify;">Candi-candi Lain</h2>
<p style="text-align:justify;">Candi Angkor lain yang juga terkenal adalah Ta Prohm, dikelilingi oleh akar dari pohon berusia ratusan tahun. Akar pohon itu membuat Ta Prohm jadi objek foto menarik yang sukses meraih wisatawan. Bayon dikenal juga sebagai &#8220;Candi Wajah&#8221;, dan ketika Anda di sana, mudah untuk mengerti mengapa nama tersebut disandang. Begitu Anda menaiki tangga batu menuju tempat suci di bagian dalam candi, ketika memandang ke atas akan tampak ratusan ukiran wajah dari batu melihat pada anda. Ada juga Banteay Srei, sebuah candi yang dipenuhi ukiran menakjubkan memenuhi setiap inci batu yang ada di sana. Bahkan dengan teknologi yang ada sekarang, hampir mustahil membuat pola-pola setepat dan serumit itu pada patung batu.</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : yahoo.travel</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=217&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/11/25/candi-siem-reap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-5.152193 119.412399</georss:point>
		<geo:lat>-5.152193</geo:lat>
		<geo:long>119.412399</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1c7b6bc785dd6a3feb79d86bd3d6b0f8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sasakala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-385743028-1282551480.jpg?ym5K8pDDfyB8mebK" medium="image" />

		<media:content url="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-263907409-1282551481.jpg?ym5K8pDDxrpJYJPQ" medium="image" />

		<media:content url="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-411927021-1282551480.jpg?ym4K8pDDrmcyRsK." medium="image" />

		<media:content url="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-553944084-1283744733.jpg?ymdffuDDdn2CXBEV" medium="image" />

		<media:content url="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-669940518-1283744734.jpg?ymeffuDDfV6V2sjP" medium="image" />

		<media:content url="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid/inspirationsid-827961611-1283744734.jpg?ymeffuDDSs0hmCek" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Candi Hindu Buddha Nusantara</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/04/candi-hindu-buddha-nusantara/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/04/candi-hindu-buddha-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 19:43:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Nusantara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Istilah candi umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja, walaupun demikian di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan Jawa istilah candi tetap dikenal sebagai nama bangunan kuno dari zaman Hindu-Buddha Nusantara.  Candi sebenarnya adalah salah satu &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/04/candi-hindu-buddha-nusantara/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=133&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Istilah candi umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja, walaupun demikian di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan Jawa istilah candi tetap dikenal sebagai nama bangunan kuno dari zaman Hindu-Buddha Nusantara.</p>
<p style="text-align:justify;"> Candi sebenarnya adalah salah satu saja dari bangunan keagaamaan yang pernah digunakan dahulu ketika agama Hindu-Buddha merebak dipeluk masyarakat Jawa Kuno. Berdasarkan bukti-buktinya dapat diketahui bahwa perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa berlangsung sekitar abad ke-8-15 M. Dalam pembabakan sejarah kebudayaan Jawa, masa itu dinamakan dengan zaman Klasik.<br />
 <span id="more-133"></span> Dinamakan dengan zaman Klasik karena adanya 3 parameter, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">Zaman Hindu-Buddha merupakan periode dikembangkannya tonggak-tonggak kebudayaan penting yang dalam zaman sebelumnya tidak dikenal, seperti aksara, sistem kerajaan, arsitektur monumental, kesenian, penataan wilayah, dan lainnya lagi.<br />
Hasil-hasil pencapaian kebudayaan masa itu terus dikenal hingga sekarang dan tetap dapat dijadikan acuan bagi perkembangan masyarakat masa sekarang. Misalnya penggunaan bahasa Jawa Kuno yang mengacu kepada bahasa Sansekerta, kisah-kisah Mahābharata dan Ramayana, konsep pahlawan, konsep penguasa yang baik, perempuan ideal, masyarakat sejahtera, dan lain-lain.<br />
Melalui penelisikan terhadap bukti-bukti artefaktualnya zaman Hindu-Buddha di Jawa pun terbagi dalam dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua (abad ke 8-10 M), dan (b) zaman Klasik Muda (abad ke 11-15 M). Zaman Klasik Tua berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bersamaan dengan berkembangnya pusat kerajaan di wilayah tersebut. Kerajaan yang dikenal dalam masa itu adalah Mataram Kuno yang ibu kotanya berpindah-pindah semula di Mdang i Poh Pitu, kemudian pindah ke Mdang i Watu Galuh, dan Mdang i Mamratipura. Adapun zaman Klasik Muda. Kerajaan Mataram Kuno kerapkali dihubungkan dengan dinasti Śailendra yang beragama Buddha Mahayana, namun ada juga kalangan sarjana yang menyatakan bahwa kerajaan itu dikuasai oleh anak keturunan raja Sanjaya (Sanjayavamsa) yang menganut agama Hindu. Teori terbaru menyatakan bahwa Mataram Kuno dikuasai oleh anggota Śailendravamsa, di antara anggota-anggotanya ada yang beragama Buddha Mahayana dan ada pula yang memeluk Hindu-śaiva.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sekitar abad ke-10 M, Wawa raja Mataram Kuno memindahkan kota kedudukan raja ke Jawa bagian timur, alasan pemindahan tersebut masih menjadi perhatian para ahli dan belum ada kata putus yang dapat diterima bersama. Hipotesa telah banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang menyatakan bahwa pemindahan tersebut karena adanya wabah penyakit, rakyat yang melarikan diri ke Jawa bagian timur karena raja-raja masa itu memerintah dengan kejam, perpindahan itu dipicu karena adanya serangan dari Śriwijaya, disebabkan bencana alam letusan Gunung Merapi, serta suatu penjelasan terbaru menyatakan bahwa pemindahan ibu kota itu sebenarnya mencari Mahameru yang lebih ideal di Jawa Timur (Munandar 2004).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka selanjutnya berkembanglah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, dimulai dari masa pemerintahan Pu Sindok bersama dinasti Iśananya. Dalam masa pemerintahan Airlangga (1019-1042 M) kerajaan Mataram yang beribukota di Wwatan Mas (abad ke-11 M) itu terpaksa dibagi menjadi dua: Janggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kadiri) yang beribu kota di Daha. Kerajaan Kadiri yang kemudian lebih berperanan dalam sejarah sepanjang abad ke-12 M. Menyusul kerajaan Singhasari yang berkembang antara tahun 1222-1292 M yang dibangun oleh Ken Angrok. Akibat adanya serangan dari Jayakatwang penguasa Glang-glang terhadap raja Singhasari terakhir, yaitu Kŗtanagara (1268-1292), kerajaan itu runtuh, untuk kemudian lewat perjuangan panjang Krtarajaśa Jayawarddhana (Raden Wijaya) berdirilah Wilwatikta. Dalam masa pemerintahan Rajaśanagara (1350-1389 M) Majapahit menjelma menjadi penguasa Nusantara, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa, berkembang selama lebih kurang 200 tahun lamanya (1293-1521 M).</p>
<p style="text-align:justify;">Kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang silih berganti di Jawa melampaui abad demi abad ada yang banyak meninggalkan jejaknya, namun ada pula yang sedikit saja mempunyai peninggalan arkeologis. Kerajaan Mataram Kuno, Singhasari dan Majapahit termasuk yang banyak mewariskan berbagai monumen keagamaan Hindu dan Buddha. Demikianlah monumen yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah bangunan candi yang merupakan salah satu monumen keagamaan penting. Bersama dengan candi terdapat monumen lain yang dipandang sakral adalah petirthaan (patirthān), goa pertapaan, dan altar persajian hanya saja jumlahnya terbatas. Oleh karena itu candi tetap menjadi bahan kajian menarik karena jumlahnya banyak dan memiliki arsitektur unikum, candi tidak akan pernah selesai dibahas dari berbagai aspek, salah satu aspeknya adalah gaya arsitekturnya.<br />
II<br />
R.Soekmono (1997) seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur. Menurutnya Langgam Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting sebagai berikut: (a) bentuk bangunan tambun, (b) atapnya berundak-undak, (c) gawang pintu dan relung berhiaskan Kala-Makara, (d) reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, dan (e) letak candi di tengah halaman. Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah: (a) bentuk bangunannya ramping, (b) atapnya merupakan perpaduan tingkatan, (c) Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala, (d) reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan (e) letak candi bagian belakang halaman (Soekmono 1997: 86).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian ciri-ciri penting yang dikemukakan oleh Soekmono selain ciri-ciri lainnya yang sangat relatif sifatnya karena berkenaan dengan arah hadap bangunan dan bahan yang digunakan. Sebagai suatu kajian awal pendapat Soekmono tersebut memang penting untuk dijadikan dasar pijakan selanjutnya manakala hendak menelaah tentang langgam arsitektur bangunan candi di Jawa. Sebenarnya setiap butir ciri yang telah dikemukakan oleh Soekmono dapat dijelaskan lebih lanjut sehingga menjadi lebih tajam pengertiannya. Misalnya bentuk bangunan tambun yang dimiliki oleh candi Langgam Jawa Tengah, kesan itu terjadi akibat adanya bagian lantai kaki candi tempat orang berjalan berkeliling memiliki ruang yang lebar, dengan istilah lain mempunyai pradaksinapatha yang lebar. Bentuk bangunan tambun juga terjadi akibat atap candi Langgam Jawa Tengah tidak tinggi, atapnya memang bertingkat-tingkat, dan hanya berjumlah 3 tingkat termasuk kemuncaknya. Dibandingkan dengan candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.</p>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan lebih rinci juga dapat terjadi dalam hal kepala Kala, selain berpasangan dengan makara (hewan mitos gabungan antara gajah dan ikan, [gajamina]), umumnya Kala pada candi-candi Jawa tengah digambarkan tanpa rahang bawah (tidak berdagu), seringkali juga tidak mempunyai sepasang cakar, dan mengesankan wajah seekor singa simbol wajah kemenangan (kirttimukha). Sedangkan Kala di candi-candi dengan Langgam Jawa Timur digambarkan mempunyai rahang bawah (berdagu), jelas mempunyai sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya dalam artian mengancam kejahatan yang akan mengganggu kesucian candi, pada beberapa candi zaman Singhasari dan Majapahit kepala Kala dilengkapi sepasang tanduk dan sepasang taring yang mencuat dari pipi kanan-kirinya. Kala tidak lagi dipasangkan dengan bingkai Makara, melainkan dengan ular atau Naga yang diletakkan di samping kanan-kiri Kala. Dalam penggambaran relief Kala disepadankan dengan sepasang kepala kijang (mŗga) yang menghadap ke arah luar. Pada akhirnya kesan yang didapatkan apabila memperhatikan Kala candi-candi Jawa Timur adalah sebagai kepala raksasa, bukannya wajah singa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal pemahatan relief yang menghias dinding candi, jika disimak dengan seksama terdapat perbedaan yang lebih terinci lagi. Memang secara prinsip di candi-candi Langgam Jawa Tengah pemahatan reliefnya tinggi dan bersifat naturalis, namun terdapat sejumlah ciri lainnya lagi yang bersifat spesifik. Dengan demikian jika diuraikan secara lengkap ciri relief di candi-candi Jawa Tengah adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahatan relief tinggi<br />
Penggambaran bersifat naturalis<br />
Ketebalan pahatan 1/2 sampai 3/4 dari media (balok batu)<br />
Terdapat bidang yang dibiarkan kosong pada panil<br />
Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan kepada pengamat (enface)<br />
Cerita acuan berasal dari kesusastraan India<br />
Tema kisah umumnya wiracarita (epos)<br />
Cerita dipahatkan lengkap dari adegan awal hingga akhir.<br />
Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahatan relief rendah<br />
Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit<br />
Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)<br />
Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat ketakutan pada bidang yang kosong.<br />
Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping<br />
Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.<br />
Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)<br />
Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap (Munandar 2003: 28-29).<br />
Dalam hal letak candi induk di suatu kompleks percandian, Soekmono menyatakan bahwa bangunan candi induk pada Langgam Jawa Tengah memang berada di pusat halaman, sedangkan bangunan candi induk di kompleks percandian dengan Langgam Jawa Timur terletak di halaman paling belakang. Soekmono menjelaskan:</p>
<p style="text-align:justify;">Maka mengenai bangunan candi harus diketengahkan bahwa candi Roro Jonggrang menghendaki ditariknya seluruh perhatian ke pusat menuju langit (lokasi kayangan tempat bersemayam para dewa), sedangkan Candi Panataran menghendaki penggelaran pandangan secara mendatar (yang sebenarnya merupakan proyeksi datar saja dari susunan vertikal) dengan tujuan pengarahan perhatian ke lokasi nenek moyang di gunung-gunung (Soekmono 1986: 237).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya secara tidak langsung Soekmono telah menjelaskan adanya fungsi yang berbeda antara bangunan candi-candi dalam masa Klasik Tua yang didirikan di Jawa bagian tengah dan candi-candi masa Klasik Muda di Jawa Timur. Bahwa bangunan candi-candi masa Klasik Tua didirikan untuk keperluan ritus pemujaan kepada dewata, sedangkan candi-candi di masa Klasik Muda terutama era Singhasari dan Majapahit bermaksud untuk didedikasikan bagi pemujaan nenek moyang telah diperdewa. Maka bangunan candi jelas merupakan monumen keagamaan yang bersifat sakral karena diperuntuk sebagai media untuk berkomunikasi dengan hal Adikodrati (superhuman beings).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai bangunan sakral candi tidaklah mengikuti kaidah keagamaan secara ketat, artinya tidak setiap bangunan candi harus didirikan secara seragam. Bangunan-bangunan tersebut mempunyai wujud arsitektur yang berbeda-beda, walaupun mempunyai latar belakang keagamaan yang sama. Wujud arsitektur yang berbeda itulah yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut, karena perbedaan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kekhasan. Oleh karena itu lazim disebut-sebut bahwa bangunan candi memiliki keistimewaan yang tidak didapatkan pada bangunan candi lainnya. Misalnya keistimewaan Candi Bima di Dieng adalah atapnya, atap dihias dengan bentuk-bentuk seperti buah keben (amalaka) yang tertekan dan oeleh karena itu wujudnya pipih. Candi lain mempunyai keistimewaan lain lagi dan seterusnya setiap candi mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.<br />
III<br />
Berdasarkan bentuk arsitekturnya, sebenarnya candi-candi di wilayah Jawa bagian tengah dapat dibagi ke dalam dua macam gaya yang berlatarbelakangkan nafas keagamaannya, yaitu (1) candi-candi Hindu-śaiva dan (2) candi-candi Bauddha. Walaupun secara prinsip candi-candi itu mempunyai kesamaan, namun terdapat banyak perbedaan pula yang menarik untuk dibicarakan lebih lanjut.</p>
<p style="text-align:justify;">Persamaan antara bangunan candi-candi Hindu-śaiva dan Bauddha di wilayah Jawa Tengah yang didirikan antara abad ke-8-10 M antara lain adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">umumnya mempunyai pondasi yang berbentuk sumuran<br />
secara vertikal terdiri dari 3 bagian, yaitu, kaki, tubuh, dan atap bangunan<br />
mempunyai ruang utama di tengah bangunan<br />
dilengkapi dengan sejumlah relung yang kadang-kadang diperbesar menjadi ruang<br />
pipi tangga berbentuk ikal lemah<br />
terdapat gabungan bingkai padma, setengah lingkaran, dan rata<br />
ornamen yang selalu dikenal adalah hiasan Kala dan Makara.<br />
Beberapa persamaan itu dapat ditemukan baik di candi-candi Hindu ataupun Buddha, seakan-akan telah menjadi ciri arsitektur bagi bangunan candi apapun di masa itu. Sebagai contoh pada butir b, baik pada candi Hindu ataupun Buddha pembagian vertikal tersebut selalu dapat dijumpai, yaitu (1) adanya bagian pondasi dan kaki candi dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari alam Bhurloka, pada candi Buddha bagian ini dipandang sebagai pencerminan lapisan kehidupan Kamadhatu. (2) Bagian tubuh candi tempat bersemayamnya arca-arca dewa baik di bilik tengah (utama) atau relung-relung (parsvadewata) dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari dunia Bhuvarloka, sedangkan dalam ajaran Buddha dapat dipandang sebagai pencerminan dari lapisan kehidupan Rupadhatu, dan (3) atap candi merupakan simbol Svarloka dalam Hinduisme, yaitu alam kehidupan para dewa. Adapun dalam ajaran Buddhisme atap adalah simbol Arupadhatu, suatu suasana tanpa wujud apapun, benar-benar hampa (śunyata).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi berdasarkan pembagian arsitektur secara vertikal baik di candi Hindu ataupun Buddha sebenarnya melambangkan lapisan 3 dunia, yaitu dunia keburukan, dunia yang agak baik, dan dunia kebajikan sepenuhnya. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam di bangunan candi, terutama dalam hal penerapan ornamennya, sebab ornamen-ornamen itu ada yang khas menggambarkan suatu dunia tertentu. Misalnya penggambaran figur-figur makhluk kahyangan yang melayang di awan, binatang-binatang mitos, pohon Kalpataru, relief cerita yang mencerminkan lapisan alam tertentu, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum membicarakan cirri penting candi-candi Hindu, berikut didaftarkan dulu candi-candi Hindu penting di wilayah Jawa bagian tengah. Dengan adanya daftar tersebut dapat diketahui adanya sejumlah candi Hindu yang bangunannya masih berdiri, walaupun ada yang tidak lengkap lagi. Candi-candi itu adalah adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Kelompok Candi Dieng + abad ke-8 Banjarnegara<br />
2. Kelompok Candi Gedong Songo + abad ke-8 Ambarawa<br />
3. Candi Gunung Wukir tahun 732 M Magelang<br />
4. Candi Pringapus + abad ke-9 Temanggung<br />
5. Kelompok Candi Sengi + abad ke-9 Magelang<br />
6. Candi Selagriya + abad ke-9 Magelang<br />
7. Candi Sambisari + abad ke-9 Sleman<br />
8. Candi Kedulan + abad ke-9 Sleman<br />
9. Candi Morangan + abad ke-9 Sleman<br />
10. Candi Barong + abad ke-9 Sleman<br />
11. Candi Ijo + abad ke-9 Sleman<br />
12. Candi Merak + abad ke-10 Klaten<br />
13. Candi Lawang + abad ke-10 Boyolali<br />
14. Candi Sari + abad ke-10 Boyolali<br />
15. Percandian Prambanan tahun 856 M Sleman</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya terdapat juga candi-candi Hindu yang tinggal runtuhannya saja, karena itu tidak dapat diperkirakan kembali wujud lengkapnya semula. Misalnya Candi Gondosuli di Temanggung, Candi Ngempon di Ambarawa, dan Candi Retno di Magelang. Tentunya di masa mendatang diperkirakan masih akan ditemukan candi-candi Hindu lainnya di wilayah Jawa Tengah, terutama di sekitar gunung atau pegunungan, mengingat terdapat konsep kuat bahwa di daerah pegunungan itulah para dewa bersemayam, jadi para pembangun candi diperkirakan akan banyak mendirikan candi di daerah dataran tinggi dan gunung-gemunung.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah candi Hindu di wilayah Jawa Tengah dapat diketahui adanya sejumlah ciri khas yang dimiliki oleh bangunan-bangunan candi Hindu, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">Di bagian tengah pondasi terdapat sumuran (perigi) tempat untuk menyimpan pendaman<br />
Lantai pradaksinapatha tidak terlalu lebar di bagian tepinya tidak ada pagar langkan (vedika).<br />
Terdapat 5 relung di dinding luarnya, 1 relung di setiap sisi dinding dan 2 relung kecil di kanan-kiri pintu (berisikan arca Durga Mahisasuramardini, Ganesa, Rsi Agastya, Mahakala, dan Nandiśvara)<br />
Jika berupa kompleks bangunan, maka terdiri dari 1 candi induk berhadapan dengan 3 Candi Perwara. Candi perwara tengah berisikan arca Nandi.<br />
Di bagian tengah bilik utama terdapat Lingga-Yoni, Yoni menutup mulut perigi yang terdapat di lantai bilik dan menembus pondasi.<br />
Mercu-mercu atap berupa bentuk candi kecil, kemuncaknya berbentuk motif ratna.<br />
Demikian beberapa ciri penting yang terdapat pada bangunan gaya arsitektur candi Hindu-śaiva yang terdapat di Jawa bagian tengah. Ciri-ciri tersebut sebagian besar dapat ditemukan pada hampir semua bangunan candi Hindu-śaiva, namun ada pula yang hanya didapatkan pada 2 bangunan saja, selain dua bangunan tersebut tidak dapat dijumpai ciri yang dimaksudkan. Misalnya di lingkungan percandian Dieng dan Gedong Songo, setiap candi tidak dilengkapi dengan 3 Candi Perwara di hadapannya, melainkan terdapat satu bangunan saja yang denahnya empat persegi panjang, kasus demikian etrjadi pada Candi Arjuno yang berhadapan dengan Candi Semar. Di kompleks Gedong Songo terdapat Candi Gedong Songo II yang berhadapan dengan struktur kaki candi berdenah empat persegi panjang, dahulu mungkin merupakan candi perwaranya. Candi Gedong Songo I, justru tidak terdapat relung di sisi luarnya, dan terlihat adanya sisa pagar langkan di bagian tepian pradaksinapathanya, jadi mirip dengan bentuk arsitektur candi Buddha. Hanya saja karena candi-candi lainnya di kelompok percandian Gedong Songo tersebut bernafaskan agama Hindu-śaiva, maka candi Gedong Songo I pun digolongkan sebagai candi Hindu-śaiva pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pada itu terdapat pula candi-candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, candi-candi itu ada yang dipandang menarik dari sudut arsitekturnya selain stupa Borobudur yang tidak ada duanya lagi di dunia. Candi Borobudur sebenarnya merupakan gabungan antara bentuk punden berundak yang dihiasi dengan stupa-stupa, stupa induk berada di puncak pundek seakan-akan menjelma menjadi mahkota bagi punden berundak khas bangunan suci masa prasejarah Indonesia (Wirjosuparto 1964: 53-54). Candi-candi Buddha ada yang mempunyai denah empat persegi panjang dalam ukuran besar (Candi Sari, Plaosan Lor, dan Banyunibo), sedangkan candi Hindu hanya berukuran kecil saja (Candi Semar dan Gedong Songo IIIc). Terdapat pula candi-candi Buddha yang dilengkapi dengan banyak Perwara, misalnya Candi Lumbung, Sewu, Plaosan Lor, dan Kidal, sedangkan candi Hindu hanya Prambanan saja yang dilengkapi banyak Perwara. Gambaran umum percandian Buddha di Jawa bagian tengah antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Percandian Ngawen + abad ke-9 Magelang<br />
2. Candi Kalasan + abad ke-8 Sleman<br />
3. Candi Sari (candi Bendah) + abad ke-8 Sleman<br />
4. Stupa Borobudur + abad ke-9 Magelang<br />
5. Candi Pawon + abad ke-9 Magelang<br />
6. Candi Mendut + abad ke-9 Magelang<br />
7. Percandian Lumbung + abad ke-9 Sleman<br />
8. Candi Bubrah sekitar tahun 782 M Sleman<br />
9. Percandian Sewu (Manjusrigrha) tahun 792 M Sleman<br />
10. Percandian Plaosan Lor + abad ke-10 Klaten<br />
11. Percandian Plaosan Kidul + abad ke-10 Klaten<br />
12. Candi Sajiwan + abad ke-9 Klaten<br />
13. Percandian Banyunibo + abad ke-9 Sleman<br />
14. Stupa Dawangsari + abad ke-10 Sleman</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah membicarakan beberapa candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, kronologi relatif, dan lokasinya sekarang ini, selanjutnya diperhatikan beberapa cirri penting dari candi-candi Buddha. Dinamakan penting karena cirri-ciri itulah yang secara umum hadir pada candi-candi Buddha, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">Ciri-ciri penting candi Buddha</p>
<p style="text-align:justify;">Bangunan candi induk dikelilingi oleh candi perwara di sekitarnya<br />
Lantai pradaksinapatha relatif lebar dan di bagian tepinya mempunyai pagar langkan (vedika)<br />
Pada bagian tubuh candi terdapat lubang-lubang yang tembus seakan-akan berfungsi sebagai ventilasi, selain terdapat relung-relung di dinding luarnya<br />
Mempunyai komponen bangunan berbentuk stupa, terutama di bagian atap<br />
Dilengkapi dengan arca-arca yang bersifat bauddha<br />
Di bilik candinya, menempel di dinding belakang terdapat pentas persajian , untuk meletakkan arca.<br />
Tidak mempunyai perigi sebagaimana yang dijumpai pada candi Hindu<br />
Pada beberapa candi besar halaman percandian diperkeras dengan hamparan balok batu, hal itu dapat ditafsirkan bahwa di masa silam pernah terjadi ritual yang banyak menyita aktivitas di halaman tersebut.<br />
Demikianlah apabila diperhatikan secara seksama terdapat perbedaan antara candi-candi Hindu-śaiva dan Buddha Mahayana di masa Klasik Tua di Jawa bagian tengah. Perbedaan itulah yang dapat disebut langgam atau gaya, jadi di Jawa bagian tengah antara abad ke-8-10 candi-candi dibangun dengan dua langgam, yaitu langgam candi Hindu atau langgam candi Buddha. Pendapat R.Soekmono dalam hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut, bahwa langgam candi Jawa tengah itu ternyata dapat dibagi menjadi 2 lagi. Sebenarnya kedua langgam itu telah mengalami gejala perpaduan di kompleks Prambanan, sebab ciri-ciri candi Hindu dan Buddha dapat ditemukan secara bersama-sama di gugusan candi Prambanan. Sejalan dengan pendapat J.G.de Casparis akhirnya terjadi perkawinan antara anggota keluarga Sanjaya yang Hindu dan anggota Śailendravamsa yang beragama Buddha. Perkawinan dua keluarga tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan bangunan suci yang bercorak dua agama, yaitu percandian Prambanan atau Śivagrha dalam tahun 856 M (Sumadio 1984).<br />
IV<br />
Setelah kerajaan berkembang di wilayah Jawa bagian timur, maka bermacam aktivitas keagamaan pun beralih ke wilayah tersebut. Bangunan suci pun kemudian dibangun oleh masyarakat masa itu di lokasi-lokasi yang dipandang sakral melanjutkan tradisi Klasik Tua, seperti di pertemuan dua aliran sungai, daerah dataran tinggi dan pegunungan, dan dekat sumber-sumber air (mata air). Hal yang menarik di daerah malang sampai sekarang masih terdapat bangunan candi dengan Langgam candi Hindu Klasik Tua –sebagaimana yang terdapat pada candi Hindu-saiva di Jawa Tengah, yaitu Candi badut. Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 M. Dalam prasasti itu diuraikan adanya Kerajaan Kanjuruhan, Raja yang mengeluarkan prasasti itu adalah Gajayana yang beragama Hindu-saiva. Sehubungan dengan sebab tertentu yang belum dapat dijerlaskan, Kanjuruhan runtuh mungkin masih dalam abad ke-8 juga, kemudian uraian sejarahnya tidak dapat diketahui lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tinggalan arsitektur tertua setelah Mataram ibu kota berlokasi di Jawa bagian timur antara abad ke-10-11 M sebenarnya cukup langka, dua di antaranya yang penting adalah petirthān kuno, yaitu Jalatunda (abad ke-10 M) yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan dan Belahan terletak di lereng timurnya (abad ke-11 M). Kedua petirthan tersebut sampai sekarang masih mengalirkan air walaupun sudah tidak deras lagi. Menilik gaya arsitektur, relief dan seni arcanya patirthǎn Jalatunda dan Belahan dapat digolongkan sebagai karya arsitektur tertua di Jawa Timur setelah periode Kanjuruhan. Satu runtuhan candi yang semula merupakan patirthǎn pula adalah candi Sanggariti yang berlokasi di daerah Batu, Malang. Hanya saja candi penting dari sekitar abad ke-10 tersebut sudah tidak terurus lagi, sebagian bangunannya (tubuh dan atapnya telah hilang).</p>
<p style="text-align:justify;">Sisa bangunan candi yang diperkirakan didirikan oleh raja Pu Sindok (929-947 M) adalah runtuh candi Lor yang terbuat dari bata di wilayah Kabupaten Nganjuk sekarang. Sisa candi Gurah di wilayah Kediri pernah ditemukan dalam penggalian arkeologi tahun 1969, bangunannya hanya tinggal pondasinya saja, sedangkan arca-arcanya dalam keadaan cukup baik, yaitu arca Brahma, Surya, Candra, dan Nandi. Bangunan Candi Gurah diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri (abad ke-12 M), candi itu masih berlanggam candi Hindu Klasik Tua karena di depan candi induknya terdapat 3 candi perwara masing-masing mempunyai pondasi yang terpisah. Ujung pipi tangganya dihias dengan makara, suatu yang lazim pada candi-candi Jawa tengah, sedangkan arca-arcanya mirip dengan gaya seni arca Singhasari, oleh karena itu Soekmono menyatakan bahwa arsitektur candi Gurah merupakan mata rantai penghubung antara gaya bangunan candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah dan masa Klasik Muda di Jawa bagian timur (Soekmono 1969: 4-5, 16-17).</p>
<p style="text-align:justify;">Bangunan candi di wilayah Jawa bagian timur yang relatif masih utuh kebanyakan berasal dari periode Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14–15 M). Candi-candi yang dihubungkan dengan periode Kerajaan Singhasari yang masih bertahan hingga kini adalah Candi Sawentar (Blitar), Kidal, Singhasari, Stupa Sumberawan (Malang), dan candi Jawi (Pasuruan).</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun candi-candi dari era Majapahit yang masih dapat diamati wujud bangunannya walaupun banyak yang tidak utuh lagi, adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Candi Sumberjati (Simping) Abad ke-14 M Blitar<br />
2. Candi Ngrimbi (Arimbi) s.d.a Jombang<br />
3. Candi Panataran (Rabut Palah) s.d.a Blitar<br />
4. Candi Surawana s.d.a Kediri<br />
5. Candi Tegawangi s.d.a Kediri<br />
6. Candi Kali Cilik s.d.a Blitar<br />
7. Candi Bangkal s.d.a Mojokerto<br />
8. Candi Ngetos s.d.a Nganjuk<br />
9. Candi Kotes s.d.a Blitar<br />
10. Candi Gunung Gangsir s.d.a Pasuruan<br />
11. Candi Jabung s.d.a Probolinggo<br />
12. Candi Kedaton Abad ke-15 M Probolinggo<br />
13. Candi Brahu s.d.a Trowulan/Mojokerto<br />
14. Candi Tikus s.d.a s.d.a<br />
15. Gapura Bajang ratu s.d.a s.d.a<br />
16. Gapura Wringin Lawang s.d.a s.d.a<br />
17. Candi Pari Abad ke-14 M Sidoarjo<br />
18. Candi Pamotan Abad ke-15 M Mojokerto<br />
19. Candi Dermo s.d.a s.d.a<br />
20. Candi Kesiman Tengah s.d.a s.d.a<br />
21. Candi Sanggrahan Abad ke-14 M Tulungagung<br />
22. Candi Mirigambar s.d.a s.d.a<br />
23. Candi Bayalango s.d.a s.d.a<br />
24. Punden berundak di Penanggungan Abad ke-15-16 M Mojokerto</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini, maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13-16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu (1) Gaya Singhasari, (2) Gaya Candi Brahu, (3) Gaya Candi Jago, (4) Candi Batur, dan (5) Punden berundak. Untuk lebih jelasnya ciri setiap gaya tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.Gaya Singhasari</p>
<p style="text-align:justify;">Dinamakan demikian karena wujud arsitektur yang menjadi ciri gaya ini mulai muncul dalam zaman kerajaan Singhasari dan terus bertahan hingga zaman Majapahit. Ciri yang menonjol dari Gaya Singhasari adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Bangunan candi utama terletak di tengah halaman, atau di daerah tengahnya yang sering tidak terlalu tepat.<br />
2. Bangunan candi terbagi 3 yang terdiri dari bagian kaki (upapitha), tubuh (stambha), dan atap yang berbentuk menjulang tinggi dengan tingkatan yang berangsur-angsur mengecil hingga puncak. Seluruh bangunan candi terbuat dari bahan tahan lama, seperti batu, bata, atau campuran batu dan bata.<br />
3. Ruang atau bilik utama terdapat di bagian tengah bangunan, terdapat juga relung di dinding luar tubuh candi tempat meletakkan arca dewata.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh gaya Singhasari adalah: Candi Sawentar, Kidal, Jawi, Singhasari (memiliki keistimewaan), Angka Tahun Panataran, Kali Cilik, Ngetos, dan Bangkal.</p>
<p style="text-align:justify;">2.Gaya Brahu</p>
<p style="text-align:justify;">Brahu adalah nama candi bata yang terletak di situs Trowulan, bentuk bangunannya unik, karena arsitekturnya baru muncul dalam zaman Majapahit. Dalam masa sebelumnya baik di era Singhasari atau Mataram Kuno bentuk arsitektur demikian belum dikenal. Dapat dipandang sebagai corak arsitektur tersendiri karena selain Candi Brahu candi yang sejenis itu masih ada lagi dalam zaman yang sama. Ciri Gaya Brahu adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Bagian kaki candi terdiri atas beberapa teras (tingkatan), teras atas lebih sempit dari teras bawahnya).<br />
2. Tubuh candi tempat bilik utama didirikan di bagian belakang denahnya yang bentuk dasarnya empat persegi panjang.<br />
3. Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang tahan lama, umumnya bata.</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk kelompok Gaya Brahu adalah Candi Brahu, Jabung, dan Gunung Gangsir. Dalam pada itu di wilayah Padang Lawas, Sumatra Utara terdapat sekelompok bangunan suci dengan Gaya Brahu pula, dinamakan dengan Biaro Bahal yang jumlahnya lebih dari 3 bangunan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas tersebut didirikan dalam masa perkembangan Majapahit pula.</p>
<p style="text-align:justify;">3.Gaya Jago</p>
<p style="text-align:justify;">Candi Jago terletak di Malang, arca-arcanya berlanggam seni Singhasari dengan adanya tokoh yang diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya, namun gaya bangunannya tidak sama dengan dua macam gaya yang telah disebutkan terdahulu. Menilik bentuk bangunannya yang berbeda dengan dua gaya lainnya, maka Candi Jago bersama beberapa candi lainnya yang sejenis termasuk ke dalam gaya seni arsitektur tersendiri. Untuk memudahkannya gaya arsitektur itu dinamakan dengan Gaya Jago, dengan Candi Jago sebagai contoh terbaiknya. Ciri-ciri penting Gaya Jago adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Kaki candi berteras 1, 2 atau 3 dengan denah dasar empat persegi panjang.<br />
2. Bilik utama didirikan di bagian tengah teras teratas atau bergeser agak ke belakang teras teratas.<br />
3. Atap tidak dijumpai lagi, diduga terbuat dari bahan yang cepat rusak (ijuk, bambu, kayu, dan lain-lain), bentuknya menjulang tinggi bertingkat-tingkat dalam bahasa Jawa Kuno dikenal dengan prasadha. Bentuk seperti ini masih dikenal di Bali dan digunakan untuk menaungi bangunan meru, pelinggih dan pesimpangan di kompleks pura.</p>
<p style="text-align:justify;">Bangunan candi yang termasuk kelompok Gaya Jago adalah: Candi Jago, Candi Induk Panataran, Sanggrahan, dan Kesiman Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Candi Batur</p>
<p style="text-align:justify;">Dinamakan demikian karena bentuknya hanya merupakan suatu bangunan 1 teras sehingga membentuk seperti siti inggil atau batur. Sekarang hanya tersisa batur itu saja dengan tangga di salah satu sisinya, denahnya bias berberntuk bujur sangkar dan dapat pula berbentuk empat persegi panjang. Di bagian permukaan batur biasanya terdapat objek sakral, antara lain berupa lingga-yoni, altar persajian, pedupaan berbentuk candi kecil atau juga arca perwujudan tokoh yang telah meninggal. Contoh bangunan candi seperti itu adalah Candi Kedaton di Probolinggo, Candi Kedaton di Trowulan, Candi Miri Gambar, Tegawangi, Surawana, Papoh (Kotes), dan Pasetran di lereng utara Gunung Penanggungan.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Punden berundak</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah bangunan teras bertingkat-tingkat meninggi yang menyandar di kemiringan lereng gunung. Ukuran teras semakin mengecil ke atas, jumlah teras umumnya 3 dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian yang jumlahnya 3 altar (1 altar induk diapit dua altar pendamping di kanan-kirinya. Tangga naik ke teras teratas terdapat di bagian tengah punden berundak, terdapat kemungkinan dahulu di kanan kiri tangga tersebut berdiri deretan arca menuju ke puncak punden yang berisikan altar tanpa arca apapun. Contoh yang baik bentuk punden berundak masa Majapahit terdapat di lereng barat Gunung Penanggungan, penduduk menamakan punden-punden itu dengan candi juga, misalnya Candi Lurah (Kepurbakalaan No.1), Candi Wayang (Kep. No.VIII), Candi Sinta (Kep.No.17a), Candi Yuddha (Kep.No.LX), dan Candi Kendalisada (Kep.No.LXV). Selain di Gunung Penanggungan terdapat pula beberapa punden berundak di lereng timur Gunung Arjuno, hanya saja dinding teras-terasnya disusun dari batu-batu alami, tanpa dibentuk dahulu menjadi balok-balok batu.</p>
<p style="text-align:justify;">Penggolongan bentuk arsitektur candi-candi di Jawa Timur tersebut berdasarkan pengamatan terhadap sisa bangunan yang masih ada sekarang, mungkin di masa silam lebih banyak lagi bentuk arsitektur yang lebih unik dan menarik, hanya saja tidak tersisa lagi wujudnya. Terdapat juga bangunan candi yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk arsitektur manapun, misalnya Candi Pari yang bangunannya melebar dan tinggi, mirip dengan bangunan suci yang terdapat di Champa (Indo-China). Mungkin saja dahulu terdapat pengaruh gaya bangunan Champa yang masuk ke Majapahit, hal itu agaknya sejalan dengan berita tradisi yang mengatakan bahwa raja Majapahit pernah menikah dengan seorang putri Champa.Bangunan lain yang juga unik adalah Candi Sumur di dekat Candi Pari, dinamakan demikian karena ruang utamanya berupa lubang sumur yang berair. Candi Sumur mempunyai padanannya pada Candi Sanggariti di Batu, Malang, namun dari kronologi yang jauh berbeda.<br />
V<br />
Aktivitas keagamaan Hindu-Buddha di Jawa masa silam tentunya cukup bergairah, terbukti dengan ditemukannya banyak peninggalan bangunan suci dari kedua agama itu baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun timur. Para ahli arkeologi dan sejarah kuno telah sepakat untuk menyatakan bahwa munculnya berbagai karya arsitektur bangunan suci itu sebenarnya sejalan dengan keberadaan pusat kerajaan sezaman. Ketika pusat kerajaan berada di Jawa Tengah, candi-candi Hindu-Buddha banyak dibangun di wilayah tersebut, dan ketika pusat-pusat kerajaan muncul di Jawa Timur, pembangunan candi-candi pun banyak dilakukan di wilayah Jawa Timur.</p>
<p style="text-align:justify;">Gaya arsitektur bangunan candi ketika pusat Kerajaan Mataram masih berlokasi di Jawa Tengah, lebih didasarkan pada latar belakang agamanya. Maka dari itu terdapat Langgam Candi Hindu-saiva dan Langgam Candi Buddha Mahayana. Lain halnya ketika pusat-pusat kerajaan telah berada di Jawa Timur, perbedaan gaya bangunan suci itu tidak didasarkan kepada perbedaan agama lagi, baik candi Hindu ataupun Buddha gaya arsitekturnya sama, hal yang membedakannya hanya terletak pada arca-arca yang dahulu disemayamkan di dalamnya. Mungkin kenyataan ini sejalan dengan konsep Siwa-Buddha bahwa sebenarnya dalam hakekat tertinggi sebenarnya tidak ada lagi perbedaan antara Siwa dan Buddha, oleh karena itu tidak perlu adanya perbedaan secara tegas terhadap wujud bangunan sucinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu masalah penting yang perlu kajian lebih lanjut adalah apa yang terjadi di wilayah Jawa bagian tengah ketika Kadiri, Singhasari dan Majapahit berkembang di Jawa Timur?, apakah Jawa Tengah sepi dari aktivitas keagamaan?, apakah masih dihuni oleh penduduk?, mengapa tidak ada sumber sejarah dan arkeologi yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah antara abad ke 11-14?. Demikianlah terdapat masalah yang menarik untuk diungkapkan di masa mendatang, bahwa tidak mungkin wilayah tua di Jawa bagian tengah bekas tempat kedudukan para Syailendra itu tiba-tiba sepi saja, ketika kerajaan-kerajaan berkembang di Jawa bagian timur. Penelisika untuk menjelaskan permasalahan itu masih terbuka, dan mengundang para ahli yang berminat untuk mengeksplorasinya lebih lanjut</p>
<p style="text-align:justify;">sumber : Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke-8 -15 M (hurahura.wordpress.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=133&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/04/candi-hindu-buddha-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candi di Bali</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-bali/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 11:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Ayun]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Lot]]></category>
		<category><![CDATA[Uluwatu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Candi di Bali Taman Ayun, Tanah Lot, Uluwatu Berbeda dengan candi-candi di Jawa, candi, atau yang di Bali disebut pura, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Pura di Bali merupakan tempat pemujaan umat Hindu. Setiap keluarga &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-bali/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=91&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Candi di Bali </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Taman Ayun, Tanah Lot, Uluwatu</p>
<p>Berbeda dengan candi-candi di Jawa, candi, atau yang di Bali disebut pura, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Pura di Bali merupakan tempat pemujaan umat Hindu. Setiap keluarga Hindu memiliki pura keluarga untuk memuja Hyang Widhi dan leluhur keluarga, sehingga pura di Pulau Bali jumlahnya mencapai ribuan.<span id="more-91"></span></p>
<p>Pura Kahyangan Desa. Setiap desa umumnya memiliki tiga pura utama yang disebut Pura Tiga Kahyangan atau Pura Tri Kahyangan (tri = tiga), yaitu pura-pura tempat pemujaan Sang Hyang Widi Wasa dalam tiga perwujudan kekuasaan-Nya: Pura Desa untuk memuja Dewa Brahma (Sang Pencipta), Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu (Sang Pemelihara), dan Pura Dalem untuk memuja Dewa Syiwa (Sang Pemusnah). Pura Desa disebut juga Bale Agung, karena pura yang umumnya terletak di pusat desa ini juga digunakan sebagai tempat melaksanakan musyawarah desa.</p>
<p>Pura Kahyangan Jagat. Pura Kahyangan merupakan tempat masyarakat umum memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam berbagai perwujudan-Nya dan juga tempat memuja roh para leluhur. Yang termasuk dalam kaetgori Pura Kahyangan Jagat, di antaranya, ialah Pura Sad Kahyangan (sad = enam), yaitu pura yang berada di enam lokasi Kahyangan besar di P. Bali. Pura Sad Khayangan terdiri atas: Pura Luhur Uluwatu, Pura Lempuyang, Pura Goa Lawah, Pura Watukaru, Pura Bukit Pengalengan dan Pura Besakih. Pura Sad Kahyangan diyakini sebagai sendi spiritual Pulau Bali dan merupakan pusat kegiatan keagamaan.</p>
<p>Selain Pura Sad Kahyangan, yang termasuk dalam kategori Pura Kahyangan Jagat adalah Pura Dhang Kahyangan, yaitu pura yang dibangun oleh pemimpin spiritual pada masa lalu. Sebagian besar Pura Dhang Kahyangan mempunyai kaitan erat dengan Dhang Hyang Nirartha, seorang pedanda (pendeta Hindu) dari Kerajaan Majapahit. Pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong, sekitar tahun 1411 Saka (1489 M), Dhang Hyang Nirartha yang juga dikenal dengan sebutan Dhang Hyang Dwijendra, mengadakan yatra (perjalanan spiritual) keliling Bali, Nusa Penida dan Lombok. Di beberapa tempat yang disinggahi Dhang Hyang Nirartha dibangunlah beberapa pura, seperti Pura Uluwatu, Pura Rambut Siwi, dsb.</p>
<p>Pura Luhur. Hampir setiap kabupaten di Bali memiliki Pura Luhur (luhur = tinggi), yaitu pura yang hari ulang tahunnya diperingati oleh umat dengan cara menyelenggarakan piodalan yang melibatkan ribuan orang. Pura Tanah Lot, Goa Lawah, dan Pura Uluwatu juga termasuk dalam kategori pura luhur.<br />
Pura Kawitan. Pura ini merupakan tempat pemujaan bagi kelompok keluarga atau keturunan tokoh tertentu. Termasuk ke dalam kategori ini adalah: Sanggah-Pemerajan, Pratiwi, Paibon, Panti, Dadia atau Dalem Dadia, Penataran Dadia, dan Pedharman. Sejarah pura kawitan Tentunya tidak dapat dipisahkan dari sejarah kerajaan-kerajaan di Bali.</p>
<p>Berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, dapat dikatakan bahwa sejarah Bali yang tercatat diawali pada abad ke-8 Masehi. Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam Prasasti Blanjong ( 913 M) yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa digunakan kata &#8216;Walidwipa&#8217; yang mengacu pada suatu wilayah pemerintahan di Bali.</p>
<p>Pada tahun 1343, Kerajaan Majapahit mengadakan ekspedisi ke Bali, dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan Panglima Arya Damar. Pada masa itu Bali dikuasai oleh Kerajaan Bedahulu dengan rajanya Astasura Ratna Bumi Banten dan patihnya Kebo Iwa. Bali berhasil ditaklukkan oleh Majapahit dan sejak itu Bali merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Sebagai kepala pemerintahan di P. Bali, Majapahit mengangkat Raja Sri Kresna Kepakisan (1350-1380 M) yang berkedudukan di Desa Samprangan dekat kota Gianyar. Pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke istana Suwecapura di Gelgel, Klungkung.</p>
<p>Selama masa kejayaan Majapahit, Kerajaan Gelgel diperintah oleh raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan. Ketika Majapahit mengalami keruntuhan, Kerajaan Gelgel yang tidak lagi menjadi negara jajahan tetap diperintah oleh keturunan Sri Kresna Kepakisan. Salah satu Raja Gelgel, Dalem Waturenggong (1460-1550 M), sangat termasyhur karena pada masa pemerintahannya P. Bali mengalami masa keemasan. Dalem Waturenggong memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Gelgel sampai ke sebagian wilayah Jawa Timur, Lombok dan Sumbawa.</p>
<p>Masa keemasan Gelgel mulai memudar pada masa pemerintahan Dalem Bekung (1550&#8211;1580 M), putra sulung Dalem Waturenggong. Pada masa pemerintahan Dalem Di Made (1605-1651 M), Gelgel bahkan kehilangan wilayah Blambangan dan Bima (tahun 1633 M) dan Lombok ( tahun 1640 M). Pada tahun 1651, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Gusti Agung Maruti. Selama pemerintahan dipegang oleh Gusti Agung Maruti, wilayah bawahan Gelgel, seperti Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangsem, Mengwi dan Tabanan melepaskan diri dari kekuasaan Gelgel dan membentuk pemerintahan sendiri.</p>
<p>Pada tahun 1686 putra Dalem Di Made yang bernama Dewa Agung Jambe merebut kembali kekuasaan dari tangan pemberontak dan memindahkan pusat pemerintahan ke istana Samarapura di Klungkung, namun kerajaan-kerajaan bekas bawahan Gelgel tetap mempertahankan kemerdekaannya. Raja Klungkung, Dewa Agung, diposisikan sebagai pimpinan spiritual dengan gelar Susuhunan Bali dan Lombok.</p>
<p>Pada tahun 1808 Jembrana ditaklukkan oleh Raja Buleleng. Pada tahun 1818, Jembrana berhasil direbut kembali oleh mantan Raja Jembrana, namun pada tahun 1821 kerajaan tersebut kembali ditaklukkan oleh Raja Buleleng. Sampai akhir abad ke-18, Bali terpecah menjadi 8 kerajaan, yaitu : Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Karangsem, Klungkung, Mengwi dan Tabanan. Kerajaan-kerajaan kecil ini yang mendasari pembagian wilayah pemerintahan sebagai kabupaten-kabupaten di Bali sekarang.</p>
<p>Pura Swagina. Pura ini merupakan tempat pemujaan bagi kelompok masyarakat dengan profesi atau mata pencarian tertentu. Sebagai contoh, Pura Melanting adalah pura untuk para pedagang, Pura Subak untuk kelompok petani, dsb.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=91&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candi di Jawa Timur</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-timur/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 11:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Badhut]]></category>
		<category><![CDATA[Bajangratu]]></category>
		<category><![CDATA[Brahu]]></category>
		<category><![CDATA[Cetha]]></category>
		<category><![CDATA[Gununggangsir]]></category>
		<category><![CDATA[Jago]]></category>
		<category><![CDATA[Jawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kidal]]></category>
		<category><![CDATA[Kolam Segaran]]></category>
		<category><![CDATA[Panataran]]></category>
		<category><![CDATA[Plumbangan]]></category>
		<category><![CDATA[Rimbi]]></category>
		<category><![CDATA[Sadon]]></category>
		<category><![CDATA[Sawentar]]></category>
		<category><![CDATA[Singasari]]></category>
		<category><![CDATA[Surawana]]></category>
		<category><![CDATA[Tegawangi]]></category>
		<category><![CDATA[Tikus]]></category>
		<category><![CDATA[Wringinlawang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Candi di Jawa Timur Badhut , Bajangratu, Brahu, Cetha, Gununggangsir, Jago, Jawi, Kidal, Kolam Segaran, Panataran, Plumbangan, Rimbi, Sadon, Sawentar, Singasari, Surawana, Tegawangi, Tikus, Wringinlawang Pada awal abad ke-10 M, tepatnya tahun 929 M, pusat pemerintahan di Jawa berpindah ke &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-timur/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=88&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Candi di Jawa Timur</strong></p>
<p>Badhut , Bajangratu, Brahu, Cetha, Gununggangsir, Jago, Jawi, Kidal, Kolam Segaran,<br />
Panataran, Plumbangan, Rimbi, Sadon, Sawentar, Singasari, Surawana, Tegawangi,<br />
Tikus, Wringinlawang</p>
<p>Pada awal abad ke-10 M, tepatnya tahun 929 M, pusat pemerintahan di Jawa berpindah ke Jawa Timur. Mpu Sindok, keturunan raja-raja Mataram Hindu, mendirikan sebuah kerajaan di Jawa Timur dengan pusat pemerintahan di Watugaluh, yang diperkirakan lokasinya berada di daerah Jombang.<span id="more-88"></span> Mpu Sindok digantikan oleh putrinya, Sri Isyana Tunggawijaya, sehingga raja-raja selanjutnya disebut sebagai Wangsa Isyana. Cucu Ratu Isyana Tunggawijaya, Mahendratta, menikah dengan Raja Bali, Udayana, dan mempunyai putra Airlangga. Raja-raja keturunan Airlangga inilah yang memerintahkan pembangunan sebagian besar candi di Jawa Timur, walaupun terdapat juga candi-candi yang diperkirakan dibangun pada masa yang lebih awal, seperti Candi Badhut di Malang.</p>
<p>Dalam Prasasti Dinoyo (760 M) disebutkan tentang adanya Kerajaan Kanjuruhan yang berlokasi di Dinoyo, Malang, yang diyakini mempunyai kaitan erat dengan pembangunan candi Hindu yang dinamakan Candi Badhut. Kecuali Candi Badhut dan Candi Songgoriti di Batu, Malang, pembuatan bangunan batu dalam skala besar baru muncul lagi pada masa pemerintahan Airlangga, misalnya pembangunan Pemandian Belahan dan Candi Jalatunda di Gunung Penanggungan.</p>
<p>Candi di Jawa Timur mempunyai ciri yang berbeda dengan yang ada di Jawa tengah dan Yogyakarta. Di Jawa Timur tidak didapati candi berukuran besar atau luas, seperti Borobudur, Prambanan atau Sewu di Jawa Tengah. Satu-satunya candi yang menempati kompleks yang agak luas adalah Candi Panataran di Blitar. Akan tetapi, candi di Jawa Timur umumnya lebih artistik. Tatakan atau kaki candi umumnya lebih tinggi dan berbentuk selasar bertingkat. Untuk sampai ke bangunan utama candi, orang harus melintasi selasar-selasar bertingkat yang dihubungkan dengan tangga.</p>
<p>Tubuh bangunan candi di Jawa Timur umumnya ramping dengan atap bertingkat mengecil ke atas dan puncak atap berbentuk kubus. Penggunaan makara di sisi pintu masuk digantikan dengan patung atau ukiran naga. Perbedaan yang mencolok juga terlihat pada reliefnya. Relief pada candi-candi Jawa Timur dipahat dengan teknik pahatan yang dangkal (tipis) dan bergaya simbolis. Objek digambarkan tampak samping dan tokoh yang digambarkan umumnya diambil dari cerita wayang.</p>
<p>Candi-candi Hindu di Jawa Timur umumnya dihiasi dengan relief atau patung yang berkaitan dengan Trimurti, tiga dewa dalam ajaran Hindu, atau yang berkaitan dengan Syiwa, misalnya: Durga, Ganesha, dan Agastya. Sosok dan hiasan yang berkaitan dengan ajaran Hindu seringkali dihadirkan bersama dengan sosok dan hiasan yang berkaitan dengan ajaran Buddha, khususnya Buddha Tantrayana. Ciri khas lain candi-candi di Jawa Timur adalah adanya relief yang menampilkan kisah wayang.</p>
<p>Rentang waktu pembangunan candi-candi di Jawa Timur lebih panjang dibandingkan dengan yang berlangsung di Jawa Tengah, yang hanya berkisar antara 200-300 tahun. Pembangunanan candi di Jawa timur masih berlangsung sampai abad ke-15. Candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya menggunakan bahan dasar batu bata merah dengan hiasan yang lebih sederhana.Beberapa candi yang dibangun pada akhir masa pemerintahan Kerajaan Majapahit oleh para ahli antropologi dinilai mencerminkan &#8220;pemberontakan&#8221; yang muncul akibat ketidakpercayaan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap keadaan pada masanya yang kacau dan juga sebagai akibat kekuatiran terhadap munculnya budaya baru. Ciri gerakan tersebut adalah: 1) Adanya upacara-upacara mistis-magis yang umumnya dilaksanakan secara rahasia; 2) Dimunculkannya tokoh penyelamat; 3) Adanya tokoh-tokoh yang diyakini sebagai pembela keadilan; 4) Munculnya komunitas yang mengucilkan diri, umumnya ke daerah-daerah pegunungan; serta 5) dimunculkannya kembali budaya &#8220;lama&#8221; sebagai wujud kerinduan terhadap zaman keemasan yang telah lampau. Ciri-ciri tersebut didapati, di antaranya, di Candi Cetha dan Candi Sukuh.</p>
<p>Pada abad ke-13 Kerajaan Majapahit mulai surut pamornya bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Jawa. Pada masa itu banyak bangunan suci yang berkaitan dengan agama Hindu dan Buddha ditinggalkan dan akhirnya dilupakan begitu oleh masyarakat yang sebagian besar telah berganti memeluk agama Islam. Akibatnya, bangunan candi yang ditelantarkan itu mulai tertimbun longsoran tanah dan ditumbuhi belukar. Ketika kemudian daerah di sekitarnya berkembang menjadi daerah pemukiman, keadaannya menjadi lebih parah lagi. Dinding candi dibongkar dan diambil batunya untuk fondasi rumah atau pengeras jalan, sedangkan bata merahnya ditumbuk untuk dijadikan semen merah. Sejumlah batu berhias pahatan dan arca diambil oleh sinder-sinder perkebunan untuk dipajang di halaman pabrik-pabrik atau rumah dinas milik perkebunan.</p>
<p>Keterangan mengenai candi-candi di Jawa Timur umumnya bersumber dari Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca (1365) dan Pararaton yang ditulis oleh Mpu Sedah (1481), selain juga dari berbagai prasasti dan tulisan di candi yang bersangkutan. Dalam wacana arkeologi Indonesia, terdapat 2 corak percandian yakni corak Jawa Tengah (abad 5-10 M) dan corak Jawa Timur (abad 11-15 M), dimana masing-masing memiliki corak serta karakteristik berbeda. Candi bercorak Jawa Tengah umumnya memiliki tubuh yang tambun, berdimensi geometris vertikal dengan pusat candi terletak di tengah, sedangkan corak Jawa Timur bertubuh ramping, berundak horisontal dengan bagian paling suci terletak belakang.</p>
<p>Berbeda denga candi-candi Jawa Tengah, selain sebagai monumen candi di Jawa Timur diduga kuat juga berfungsi sebagai tempat pendarmaan dan pengabadian raja yang telah meninggal. Candi yang merupakan tempat pendarmaan, antara lain, Candi Jago untuk Raja Wisnuwardhana, Candi Jawi dan Candi Singasari untuk Raja Kertanegara, Candi Ngetos untuk Raja Hayamwuruk, Candi Kidal untuk Raja Anusapati, Candi Bajangratu untuk Raja Jayanegara, Candi Jalatunda untuk Raja Udayana, Pemandian Belahan untuk Raja Airlangga, Candi Rimbi untuk Ratu Tribhuanatunggadewi, Candi Surawana untuk Bre Wengker, dan candi Tegawangi untuk Bre Matahun atau Rajasanegara. Dalam filosofi Jawa candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Keyakinan tersebut berkaitan erat dengan konsep “Dewa Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat pada masa yang sama. Fungsi ruwatan ditandai dengan adanya relief pada kaki candi yang menggambarkan legenda dan cerita yang mengandung pesan moral, seperti yang terdapat di Candi Jago, Surawana, Tigawangi, dan Jawi.</p>
<p>Candi di Jawa Timur jumlahnya mencapai puluhan, umumnya pembangunannya mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Belum semua candi dimuat dalam situs web ini. Masih banyak candi, terutama candi-candi kecil yang belum terliput, di antaranya: Bacem, Bara, Bayi, Besuki, Carik, Dadi, Domasan, Gambar, Gambar Wetan, Gayatri, Gentong (dalam pemugaran), Indrakila, Jabung, Jimbe, Kalicilik, Kedaton, Kotes, Lemari, Lurah, Menakjingga, Mleri, Ngetos, Pamotan, Panggih, Pari, Patirtan Jalatunda, Sanggrahan, Selamangleng, Selareja, Sinta, Songgoriti, Sumberawan, Sumberjati, Sumberjati, Sumbernanas, Sumur, Watu Lawang, dan Watugede.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=88&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candi di Jawa Barat</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-barat/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 11:44:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Batujaya]]></category>
		<category><![CDATA[Bojongmenje]]></category>
		<category><![CDATA[Cangkuang]]></category>
		<category><![CDATA[Cibuaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Candi di Jawa Barat Batujaya, Bojongmenje, Cangkuang, Cibuaya Sejarah sebuah candi di Indonesia tidak terlepas dari sejarah sebuah kerajaan, karena pembangunan candi pada masa lalu adalah atas perintah seorang raja atau kepala pemerintahan yang menguasai wilayah tempat candi tersebut berada. &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-barat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=86&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Candi di Jawa Barat</strong></p>
<p><strong>Batujaya, Bojongmenje, Cangkuang, Cibuaya</strong><br />
Sejarah sebuah candi di Indonesia tidak terlepas dari sejarah sebuah kerajaan, karena pembangunan candi pada masa lalu adalah atas perintah seorang raja atau kepala pemerintahan yang menguasai wilayah tempat candi tersebut berada. Berabad-abad lamanya, sejak masa penjajahan Belanda, hampir tidak ada bangunan peninggalan kuno yang ditemukan di Jawa Barat. <span id="more-86"></span></p>
<p>Peninggalan masa lalu yang dijadikan pijakan dalam upaya menjelaskan secara runtut sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Barat, khususnya kerajaan Hindu dan Buddha, selama ini berupa prasasti yang ditemukan di beberapa tempat serta kitab-kitab kuno, seperti Pustaka Jawadwipa, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, dan Chu-fan-chi karangan Chau Ju-kua (1178-1225) yang merupakan catatan (buku) Cina yang memuat uraian tentang Sunda.</p>
<p>Salah satu dari prasati tersebut adalah Prasasti Juru Pangambat atau Prasasti Pasir Muara (458 Saka atau 536 M) ditemukan di Pasir Muara, Bogor menerangkan tentang pengembalian pemerintahan negara kepada Raja Sunda. Prasasti lainnya adalah Prasasti Telapak Gajah peninggalan Raja Purnawarman yang juga ditemukan di Pasir Muara, yang memuat gambar telapak gajah dan keterangan yang menjelaskan sepasang jejak telapak kaki tersebut adalah milik gajah kepunyaan penguasa Tarumanagara.</p>
<p>Prasasti Ciaruteun ditemukan di S. Ciaruteun, sekitar 100 m dari muara S. Cirateun ke S. Cisadane dan berjarak beberapa ratus meter dari tempat ditemukannya Prasasti Juru Pangambat. Prasasti Ciaruteun memuat gambar jejak sepasang kaki dan tulisan berbahasa Sansekerta dalam huruf Palawa yang menerangkan bahwa jejak telapak kaki tersebut milik Raja Purnawarman yang menguasai Tarumanagara. Menurut informasi yang dimuat dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raja Purnawarman memerintah Tarumanegara pada tahun 395-434 M. Prasasti Kebon Kopi (942 M) ditemukan di bekas perkebunan kopi milik Jonathan Rig di Ciampea, juga tidak jauh dari ditemukannya Prasasti Juru Pangambat. Sebuah prasasti juga ditemukan di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Prasasti ini juga memuat gambar sepasang telapak kaki dan keterangan bahwa telapak kaki tersebut milik Raja Purnawarman yang memerintah Taruma. Masih banyak prasasti lain yang dapat dijadikan sumber informasi mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa barat, seperti Prasasti Citatih (Cibadak, 1030 M), Prasasti Cidanghiang (Lebak) dan Prasasti Jambu (Nanggung; sebelah barat Bogor).</p>
<p>Berdasarkan keterangan dalam prasasti dan kitab-kitab yang ada, dapat diketahui bahwa Kerajaan Taruma didirikan Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Sang raja wafat tahun 382 dan digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382 &#8211; 395 M). Raja Tarumanegara berikutnya adalah Purnawarman (395 &#8211; 434 M), yang membangun ibukota kerajaan baru, Sundapura, pada tahun 397 M. Kerajaan Tarumanagara hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Raja Tarumanagara terakhir, Linggawarman, digantikan oleh menantunya pada tahun 669 M.</p>
<p>Prasasti Juru Pangambat yang menerangkan pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda dibuat tahun 536 M, yaitu pada masa pemerintahan Suryawarman (535 &#8211; 561 M), Raja Tarumanagara ke-7. Dalam Pustaka Jawadwipa disebutkan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515 &#8211; 535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara, seperti halnya penyerahan kembali kekuasaan oleh Suryawarman. Pengembalian kekuasaan tersebut merupakan petunjuk bahwa Sundapura, yang semula merupakan ibu kota Tarumanagara, telah berubah status menjadi sebuah kerajaan. Dengan demikian, pusat pemerintahan Tarumanagara mengalami perpindahan ke tempat lain.</p>
<p>Pada tahun 670 M, Tarumanagara terpecah menjadi dua kerajaan yang dibatasi oleh S. Citarum, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Sunda merupakan keturunan Maharaja Tarusbawa, menantu Raja Linggawarman. Raja Tarusbawa, yang memerintah Kerajaan Sunda sampai dengan tahun 723 M, mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat Hulu Cipakancilan.</p>
<p>Pada tahun 732 M. Raja Tarusbawa digantikan Raja Sunda II yang bergelar Prabu Harisdarma. Raja Sunda II yang juga menantu Raja Tarusbawa kemudian menaklukkan Kerajaan Galuh dan lebih dikenal dengan nama Raja Sanjaya. Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Mataram Hindu, di Jawa Tengah, pada tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya, Rakai Panaraban. Putra Raja Sanjaya yang lain, Rakai Panangkaran, mewarisi kekuasaan di Kerajaan Mataram Hindu.</p>
<p>Baru sekitar tigapuluh tahun terakhir ini ditemukan beberapa situs sejarah berupa reruntuhan bangunan kuno di beberapa tempat di Jawa Barat. Temuan-temuan tersebut di antaranya adalah: Candi Bojongmenje di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung (ditemukan pada 18 Agustus 2002); Candi Candi Ronggeng atau Candi Pamarican di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis (ditemukan tahun 1977); Kompleks candi Batujaya di Kecamatan Batujaya dan di Cibuaya Kabupaten Karawang; serta Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Walaupun sejauh ini belum dapat dipastikan kapan dan oleh siapa candi-candi tersebut dibangun, namun penemuan reruntuhan bangunan kuno tersebut merupakan fakta baru yang dapat digunakan untuk mengungkap sejarah kerajaan di wilayah Jawa Barat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=86&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-jawa-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candi Di Sumatera</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-sumatera/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 11:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahal Takus]]></category>
		<category><![CDATA[Muara Takus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Candi di Sumatra Bahal Takus, Muara Takus Candi di Pulau Sumatra tidak sebanyak yang terdapat di Pulau Jawa. Kebanyakan candi di Sumatra terletak di lokasi yang cukup jauh dari kota, sehingga tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. Sebagian besar &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-sumatera/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=84&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Candi di Sumatra</strong><br />
<strong>Bahal Takus, Muara Takus</strong><br />
Candi di Pulau Sumatra tidak sebanyak yang terdapat di Pulau Jawa. Kebanyakan candi di Sumatra terletak di lokasi yang cukup jauh dari kota, sehingga tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. Sebagian besar candi di Sumatra, yang telah diketahui keberadaannya, berada di provinsi Sumatra Utara, khususnya di Kabupaten Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan. Sangat sedikit informasi yang diketahui tentang keberadaan candi-candi tersebut. Di samping itu, umumnya lokasi candi cukup jauh dari kota, sehingga tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya atau berkunjung ke sana.<span id="more-84"></span></p>
<p>Di Simangambat dekat Siabu, Sumatra Utara, misalnya, terdapat reruntuhan candi Syiwa. Diduga candi tersebut dibangun pada abad ke-8. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai reruntuhan candi ini masih perlu dilakukan penelitian dan penggalian.<br />
Kawasan lain di Sumatra Utara yang dikenal mempunyai banyak candi ialah kawasan Padang Lawas, yang mencakup Kecamatan Sipirok, Sibuhuan, Sosopan, Sosa, dan Padang Bolak. Di kawasan ini terdapat belasan reruntuhan candi Hindu yang kesemuanya terletak tidak jauh dari sungai. Sebagian besar terdapat di Kecamatan Padang Bolak. Tidak banyak yang diketahui tentang reruntuhan candi tersebut. Diduga candi-candi tersebut dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Panei pada abad ke-11 M.</p>
<p>Di antara candi-candi di kawasan Padang Lawas, yang paling dikenal adalah Candi Bahal yang terletak di Desa Bahal. Candi ini telah diketahui keberadaannya sejak zaman Belanda. Pemerintah Belanda menamakannya Candi Portibi (kata portibi dalam bahasa Batak berarti dalam dunia ini). Di kompleks Candi Bahal terdapat tiga bangunan candi yang telah direnovasi, yaitu Candi Bahal I, Bahal II dan Bahal III. Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis lurus. Walaupun telah mengalami pemugaran, banyak bagian candi yang sudah tidak ditemukan lagi sehingga harus diganti dengan batu bata. Candi lain di kawasan ini, yang sudah mengalami pemugaran adalah Candi Sipamutung. Candi ini merupakan kompleks percandian yang cukup besar dan terdiri dari beberapa bangunan, namun hampir tidak ada informasi tertulis yang bisa didapat tentang candi ini.</p>
<p>Di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, juga terdapat beberapa candi, di antaranya adalah Candi Astano, Candi Tinggi dan Candi Gumpung, Candi Kembar baru, Candi Gedong, Candi Kedaton, dan Candi Kota Mahligai. Bentuk bangunan candi dan sisa artikel bersejarah yang dijumpai Muaro Jambi menunjukkan bahwa bangunan ini berlatar belakang Hinduisme dan diperkirakan dibangun pada abat ke-4 sampai dengan ke-5 M.</p>
<p>Candi yang cukup besar dan terkenal di Sumatra adalah Candi Muara Takus yang terletak di Provinsi Riau, tepatnya di Desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto, Kabupaten Kampar. Di dekat hulunya, Sungai Kampar bercabang dua menjadi Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Di pinggir Sungai Kampar Kanan inilah letak Desa Muara Takus. Bangunan candi Muara Takus sebagian besar dibuat dari batu bata merah. Berbeda dengan reruntuhan candi lain yang ditemukan di Sumatra Utara, Candi Muara Takus merupakan candi Buddha. Keberadaan candi diduga mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan juga dapat dijadikan petunjuk bahwa Muara Takus pernah berfungsi sebagai pelabuhan kapal. Hal itu dimungkinkan mengingat orang Sriwijaya adalah pelaut-pelaut yang tangguh yang mampu melayari Sungai Kampar sampai jauh ke arah hulu. Berdasarkan catatan I-Ching, ada yang memperkirakan daerah Muara Takus merupakan Ibukota Kerajaan Sriwijaya atau paling tidak sebagai kota pelabuhan yang pernah jadi salah satu pusat belajar agama Buddha, tempat menimba ilmu para musafir dari Cina, India, dan negara-negara lainnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=84&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/02/candi-di-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/01/candi-di-jawa-tengah/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/01/candi-di-jawa-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 14:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Banyuniba]]></category>
		<category><![CDATA[Barabudhur]]></category>
		<category><![CDATA[Barong]]></category>
		<category><![CDATA[Bubrah]]></category>
		<category><![CDATA[Dieng]]></category>
		<category><![CDATA[Gebang]]></category>
		<category><![CDATA[Gedong Sanga]]></category>
		<category><![CDATA[Ijo]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kalasan Kedulan]]></category>
		<category><![CDATA[Lumbung]]></category>
		<category><![CDATA[Mendut]]></category>
		<category><![CDATA[Pawon]]></category>
		<category><![CDATA[Plaosan]]></category>
		<category><![CDATA[Prambanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pringapus]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Baka]]></category>
		<category><![CDATA[Sambisari]]></category>
		<category><![CDATA[Sari]]></category>
		<category><![CDATA[Sewu]]></category>
		<category><![CDATA[Sukuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta Banyuniba, Barong, Barabudhur, Bubrah ,Dieng, Gebang, Gedong Sanga, Ijo, Kalasan Kedulan, Lumbung, Mendut, Pawon, Plaosan, Prambanan, Pringapus, Ratu Baka, Sambisari, Sari, Sewu, Sukuh Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, di Jawa Tengah &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/01/candi-di-jawa-tengah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=65&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta</strong><br />
Banyuniba, Barong, Barabudhur, Bubrah ,Dieng, Gebang, Gedong Sanga, Ijo, Kalasan<br />
Kedulan, Lumbung, Mendut, Pawon, Plaosan, Prambanan, Pringapus, Ratu Baka, Sambisari, Sari, Sewu, Sukuh</p>
<p style="text-align:justify;">Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan Hindu bernama Kalingga. Pada akhir paruh pertama abad ke-8, diperkirakan th. 732 M, Raja Sanjaya mengubah nama Kalingga menjadi Mataram. Selanjutnya Mataram diperintah oleh keturunan Sanjaya (Wangsa Sanjaya). Selama masa pemerintahan Raja Sanjaya, diperkirakan telah dibangun candi-candi Syiwa di pegunungan Dieng.<span id="more-65"></span><br />
Pada akhir masa pemerintahan Raja Sanjaya, datanglah Raja Syailendra yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya (di Palembang) yang berhasil menguasai wilayah selatan di Jawa Tengah. Kekuasaan Mataram Hindu terdesak ke wilayah utara Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintahan Raja Syailendra yang beragama Buddha ini dilanjutkan oleh keturunannya, Wangsa Syailendra. Dengan demikian, selama kurang lebih satu abad, yaitu tahun 750-850 M, Jawa Tengah dikuasai oleh dua pemerintahan, yaitu pemerintahan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha Mahayana. Pada masa inilah sebagian besar candi di Jawa Tengah dibangun. Oleh karena itu, candi-candi di Jawa Tengah bagian Utara pada umumnya adalah candi-candi Hindu, sedangkan di wilayah selatan adalah candi-candi Buddha. Kedua Wangsa yang berkuasa di Jawa Tengah tersebut akhirnya dipersatukan melalui pernikahan Rakai Pikatan (838 &#8211; 851 M) dengan Pramodawardhani, Putra Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra.</p>
<p style="text-align:justify;">Candi di Jawa Tengah umumnya menghadap ke Timur, dibangun menggunakan batu andesit. Bangunan candi umumnya bertubuh tambun dan terletak di tengah pelataran. Di antara kaki dan tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar, yang berfungsi sebagai tempat melakukan ‘pradaksina’ . Di atas ambang pintu ruangan dan relung terdapat hiasan kepala Kala (Kalamakara) tanpa rahang bawah. Bentuk atap candi di Jawa tengah umumnya melebar dengan puncak berbentuk ratna atau stupa. Keterulangan bentuk pada atap tampak dengan jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping letak dan bentuk bangunannya, candi Jawa tengah mempunyai ciri khas dalam hal reliefnya, yaitu pahatannya dalam, objek dalam relief digambarkan secara naturalis dengan tokoh yang mengadap ke depan. Batas antara satu adegan dengan adegan lain tidak tampak nyata dan terdapat bidang yang dibiarkan kosong. Pohon Kalpataru yang dianggap sebagai pohon suci yang tumbuh ke luar dari objek berbentuk bulat banyak didapati di candi-candi Jawa tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta jumlahnya mencapai puluhan, umumnya pembangunannya mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Mataram Hindu, baik di bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra. Belum semua candi dimuat dalam situs web ini. Masih banyak candi, terutama candi-candi kecil yang belum terliput, di antaranya: Abang, Asu, Bogem, Bugisan, Candireja, Dawungsari, Dengok, Gampingan, Gatak, Gondang, Gua Sentana, Gunungsari, Gunungwukir (Canggal), Ijo, Kelurak, Marundan, Merak, Miri, Morangan, Muncul, Ngawen, Payak, Pendem, Pringapus, Retno, Sakaliman, Sojiwan, Umbul dan Watugudig.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=65&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/09/01/candi-di-jawa-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candi</title>
		<link>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/05/16/candi/</link>
		<comments>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/05/16/candi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 14:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Icinno</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Candika]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wisatacandi.wordpress.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Candi adalah sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Namun demikian, istilah &#8216;candi&#8217; tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja. Banyak situs-situs purbakala lain dari masa &#8230; <a href="http://wisatacandi.wordpress.com/2010/05/16/candi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=1&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Candi adalah sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Namun demikian, istilah &#8216;candi&#8217; tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja. Banyak situs-situs purbakala lain dari masa Hindu-Buddha atau Klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi. Candi juga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Durga).<span id="more-1"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Fungsi Candi<br />
Selalu dihubungkan dengan monumen untuk memuliakan Raja yang meninggal contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati<br />
Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur<br />
Candi Pintu Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contohnya candi Bajang Ratu<br />
Candi Balai Kambang / Tirta: didirikan didekat / di tengah kolam, contoh candi Belahan<br />
Candi Pertapaan: didirikan di lereng – lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda<br />
Candi Vihara: didirikan untuk tempat para pendeta bersemedhi contohnya candi Sari</p>
<p>Struktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian<br />
Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk denahnya (berbentuk segi empat, ujur sangkar atau segi 20)<br />
Tubuh candi. Terdapat kamar – kamar tempat arca atau patung<br />
Atap candi: berbentuk limas an, bermahkota stupa, lingga, ratna atau amalaka<br />
Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok. Ada dua system dalam pengelempokan candi, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada di tengah – tengah anak – anak candi, contohnya kelompok candi lorojongrang dan prambanan<br />
System membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk candi berada di belakang anak – anak candi, contohnya candi penataran<br />
Suatu candi di masa lampau biasanya berfungsi dan digunakan masyarakat dari latar belakang agamanya, yaitu Hindu-Saiwa, Budha Mahayana, Siwa Buddha dan Rsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bangunan candi terbagi menjadi:<br />
Candi Kerajaan, yaitu yang digunakan oleh seluruh warga kerajaan. Contoh: C.Borobudur, C.Prambanan, C.Sewu, C.Plaosan (Jawa Tengah), C.Panataran di Jawa Timur.<br />
Candi Wanua/watak,yaitu candi yang digunakan oleh seluruh masyarakat pada daerah tertentu pada suatu kerajaan. Contoh:candi yang berasal dari masa Majapahit,C.Sanggrahandi (Tulung Agung, Jawa Tengah), C.Gebang (Yogya),C.Pringapus (tulung Agung, Jawa Tengah).<br />
Candi pribadi, yaitu candi yang digunakan untuk mendharmakan seorang tokoh. Contoh: C.Kidal (pendharmaan Anusapati,raja Singhasari), C.Jajaghu (Pendharmaan Wisnuwardhana,raja Singhasari), C.Ngrimbi (pendharmaan Tribuanatunggadewi, ibu Hayam Wuruk),C. Tegawangi (pendharmaan Bhre Matahun), dan C. Surawana (pendharmaan Bhre Wengker).</p>
<p style="text-align:justify;">Arsitektur Candi<br />
Pembangunan candi dibuat berdasarkan beberapa ketentuan yang terdapat dalam suatu kitab Vastusastra atau Silpasastra yang dikerjakan oleh silpin yaitu seniman yang membuat candi (arsitek zaman dahulu). Salah satu bagian dari kitab Vastusastra adalah Manasara yang berasal dari India Selatan, yang tidak hanya berisi patokan-patokan membuat kuil beserta seluruh komponennya saja, melainkan juga arsitektur profan, bentuk kota, desa, benteng, penempatan kuil-kuil di kompleks kota/desa, dll. Beberapa ketentuan dari kitab selain Manasara namun sangat penting di Indonesia adalah syarat bahwa bangunan suci sebaiknya didirikan di dekat air, baik air sungai (terutama di dekat pertemuan 2 buah sungai, danau, laut, bahkan kalau tidak ada harus dibuat kolam buatan atau meletakkan sebuah jambangan berisi air di dekat pintu masuk bangunan suci tersebut. Selain di dekat air, tempat terbaik mendirikan sebuah candi yaitu di puncak bukit, di lereng gunung, di hutan, di lembah,dsb. Seperti kita ketahui, candi-candi pada umumnya didirikan di dekat sungai, bahkan candi Borobudur terletak di dekat pertemuan sungai Opak dan sungai Progo.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahan-bahan untuk membuat candi:<br />
Batu kali (andesit)<br />
Batu putih, seperti di C.Ratu Boko, Jateng<br />
Batu bata kuno (keras, berbeda dengan bata pada saat ini)</p>
<p>Macam-macam denah candi:<br />
denah bujur sangkar<br />
denah persegi panjang<br />
denah lingkaran</p>
<p>Kata &#8220;candi&#8221; mengacu pada berbagai macam bentuk dan fungsi bangunan, antara lain empat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia, sejak abad ke-5 sampai dengan abad ke-14.</p>
<p>Karena sjaran Hindu dan Buddha berasal dari negara India, maka bangunan candi banyak mendapat pengaruh India dalam berbagai aspeknya, seperti: teknik bangunan, gaya arsitektur, hiasan, dan sebagainya. Walaupun demikian, pengaruh kebudayaan dan kondisi alam setempat sangat kuat, sehingga arsitektur candi Indonesia mempunyai karakter tersendiri, baik dalam penggunaan bahan, teknik kontruksi maupun corak dekorasinya. Dinding candi biasanya diberi hiasan berupa relief yang mengandung ajaran atau cerita tertentu.</p>
<p>Dalam kitab Manasara disebutkan bahwa bentuk candi merupakan pengetahuan dasar seni bangunan gapura, yaitu bangunan yang berada pada jalan masuk ke atau keluar dari suatu tempat, lahan, atau wilayah. Gapura sendiri bisa berfungsi sebagai petunjuk batas wilayah atau sebagai pintu keluar masuk yang terletak pada dinding pembatas sebuah komplek bangunan tertentu. Gapura mempunyai fungsi penting dalam sebuah kompleks bangunan, sehingga gapura juga nencerminkan keagungan dari bangunan yang dibatasinya. Perbedaan kedua bangunan tersebut terletak pada ruangannya. Candi mempunyai ruangan yang tertutup, sedangkan ruangan dalam gapura merupakan lorong yang berfungsi sebagai jalan keluar-masuk.</p>
<p>Beberapa kitab keagamaan di India, misalnya Manasara dan Sipa Prakasa, memuat aturan pembuatan gapura yang dipegang teguh oleh para seniman bangunan di India. Para seniman pada masa itu percaya bahwa ketentuan yang tercantum dalam kitab-kitab keagamaan bersifat suci dan magis. Mereka yakin bahwa pembuatan bangunan yang benar dan indah mempunyai arti tersendiri bagi pembuatnya dan penguasa yang memerintahkan membangun. Bangunan yang dibuat secara benar dan indah akan mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat. Keyakinan tersebut membuat para seniman yang akan membuat gapura melakukan persiapan dan perencanaan yang matang, baik yang bersifat keagamaan maupun teknis.</p>
<p>Salah satu bagian terpenting dalam perencanaan teknis adalah pembuatan sketsa yang benar, karena dengan sketsa yang benar akan dihasilkan bangunan seperti yang diharapkan sang seniman. Pembuatan sketsa bangunan harus didasarkan pada aturan dan persyaratan tertentu, berkaitan dengan bentuk, ukuran, maupun tata letaknya. Apabila dalam pembuatan bangunan terjadi penyimpangan dari ketentuan-ketentuan dalam kitab keagamaan akan berakibat kesengsaraan besar bagi pembuatnya dan masyarakat di sekitarnya. Hal itu berarti bahwa ketentuan-ketentuan dalam kitab keagamaan tidak dapat diubah dengan semaunya. Namun, suatu kebudayaan, termasuk seni bangunan, tidak dapat lepas dari pengaruh keadaan alam dan budaya setempat, serta pengaruh waktu. Di samping itu, setiap seniman mempunyai imajinasi dan kreatifitas yang berbeda.</p>
<p>Sampai saat ini candi masih banyak didapati di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatra, Jawa, dan Bali. Walaupun sebagian besar di antaranya tinggal reruntuhan, namun tidak sedikit yang masih utuh dan bahkan masih digunakan untuk melaksanakan upacara keagamaan. Sebagai hasil budaya manusia, keindahan dan keanggunan bangunan candi memberikan gambaran mengenai kebesaran kerajaan-kerajaan pada masa lampau.</p>
<p>Candi-candi Hindu di Indonesia umumnya dibangun oleh para raja pada masa hidupnya. Arca dewa, seperti Dewa Wishnu, Dewa Brahma, Dewi Tara, Dewi Durga, yang ditempatkan dalam candi banyak yang dibuat sebagai perwujudan leluhurnya. Bahkan kadang-kadang sejarah raja yang bersangkutan dicantumkan dalam prasasti persembahan candi tersebut. Berbeda dengan candi-candi Hindu, candi-candi Buddha umumnya dibangun sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan untuk mendapatkan ganjaran. Ajaran Buddha yang tercermin pada candi-candi di Jawa Tengah adalah Buddha Mahayana, yang masih dianut oleh umat Buddha di Indonesia sampai saat ini. Berbeda dengan aliran Buddha Hinayana yang dianut di Myanmar dan Thailand.</p>
<p>Dalam situs web ini, deskripsi mengenai candi di Indonesia dikelompokkan ke dalam: candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi di Jawa Timur candi di Bali dan candi di Sumatra. Walaupun pada masa sekarang Jawa Tengah dan Yogyakarta merupakan dua provinsi yang berbeda, namun dalam sejarahnya kedua wilayah tersebut dapat dikatakan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Hindu, yang sangat besar peranannya dalam pembangunan candi di kedua provinsi tersebut. Pengelompokan candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta berdasarkan wilayah administratifnya saat ini sulit dilakukan, namun, berdasarkan ciri-cirinya, candi-candi tersebut dapat dikelompokkan dalam candi-candi di wilayah utara dan candi-candi di wilayah selatan.</p>
<p>Candi-candi yang terletak di wilayah utara, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Sanjaya, merupakan candi Hindu dengan bentuk bangunan yang sederhana, batur tanpa hiasan, dan dibangun dalam kelompok namun masing-masing berdiri sendiri serta tidak beraturan beraturan letaknya. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Dieng dan Candi Gedongsanga. Candi di wilayah selatan, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Syailendra, merupakan candi Buddha dengan bentuk bangunan yang indah dan sarat dengan hiasan. Candi di wilayah utara ini umumnya dibangun dalam kelompok dengan pola yang sama, yaitu candi induk yang terletak di tengah dikelilingi oleh barisan candi perwara. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Prambanan, Candi Mendut, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Candi Borobudur.</p>
<p>Candi-candi di Jawa Timur umumnya usianya lebih muda dibandingkan yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena pembangunannya dilakukan di bawah pemerintahan kerajaan-kerajaan penerus kerajaan Mataram Hindu, seperti Kerajaan Kahuripan, Singasari, Kediri dan Majapahit. Bahan dasar, gaya bangunan, corak dan isi cerita relief candi-candi di Jawa Timur sangat beragam, tergantung pada masa pembangunannya. Misalnya, candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari umumnya dibuat dari batu andesit dan diwarnai oleh ajaran Tantrayana (Hindu-Buddha), sedangkan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya dibuat dari bata merah dan lebih diwarnai oleh ajaran Buddha.</p>
<p>Candi-candi di Bali umumnya merupakan candi Hindu dan sebagian besar masih digunakan untuk pelaksanaan upacara keagamaan hingga saat ini. Di Pulau Sumatra terdapat 2 candi Buddha yang masih dapat ditemui, yaitu Candi Portibi di Provinsi Sumatra Utara dan Candi Muara Takus di Provinsi Riau.</p>
<p>Sebagian candi di Indonesia ditemukan dan dipugar pada awal abad ke-20. Pada tanggal 14 Juni 1913, pemerintah kolonial Belanda membentuk badan kepurbakalaan yang dinamakan Oudheidkundige Dienst (biasa disingkat OD), sehingga penanganan atas candi-candi di Indonesia menjadi lebih intensif. Situs web ini direncanakan akan memuat deskripsi seluruh candi yang ada di Indonesia, namun saat ini belum semua candi dapat terliput.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wisatacandi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wisatacandi.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wisatacandi.wordpress.com&amp;blog=13705088&amp;post=1&amp;subd=wisatacandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wisatacandi.wordpress.com/2010/05/16/candi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6113b92332b0d81445ac373c1e148ad9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Icinno</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
